Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Masih Digodok, MoU Bus Damri Rintis Trayek yang Terisolir di Tulungagung

Henny Surya Akbar Purna Putra • Jumat, 20 September 2024 | 00:19 WIB
Damri Kelas Eksklusif
Damri Kelas Eksklusif

TULUNGAGUNG - DAMRI berencana merintis kembali trayek Tulungagung-Ponorogo lewat Bendungan Wonorejo, Kabupaten Tulungagung. 

Jalur ini tergolong terisolir karena belum terfasilitasi angkutan umum sejak 2016 silam. 

Kabid Angkutan dan Sarana Dinas Perhubungan (Dishub) Tulungagung, Sujarmani mengaku saat ini Dishub sedang membuat surat rekomendasi bupati Tulungagung sebagai pertimbangan pengajuan MoU Damri dengan departemen perhubungan pusat.

“Jadi kami masih membuat sebuah rekomendasi dari bupati untuk diajukan ke Damri sebagai bahan pertimbangan untuk perpanjangan kontrak itu atau MoU baru,” ungkapnya saat dikonfirmasi Mahasiswa magang di Jawa Pos Radar Tulungagung Rabu (4/9/2024)

Selain itu, terpenuhinya target pasar menjadi salah satu faktor dibuatnya kontrak baru.

“Damri sendiri kalau tidak memenuhi target ya tidak akan diperpanjang, itu faktornya dia ingin memperpanjang, berarti kan terpenuhi targetnya,” jelas Sujarmani.

Menurut Sujarmani proyek perintis ini sangat perlu diperpanjang, karena Damri menjadi transportasi yang membuka jalur-jalur terisolir terutama masyarakat Pagerwojo yang hendak berpergian ke kota.

Begitu pula bagi masyarakat Ponorogo yang hendak menuju Tulungagung terutama ke Pasar Ngemplak yang menjadi pasar grosir mulai dari Tulungagung, Blitar, Trenggalek.

“Dari Masyarakat Ponorogo ke Tulungagung biasanya itu kan ke Ngemplak toh, Pasar Ngemplak menjadi pasar grosir mulai dari kota Blitar, Tulungagung, Blitar, Trenggalek itu pusatnya di pasar Ngemplak,” jelasnya

Sementara trayek yang dilewati Damri antara lain mulai dari terminal Seloaji Ponorogo-Trenggalek-Pagerwojo-Pasar Ngemplak-Terminal Gayatri Tulungagung.

“Jadi trayek perintis dari Terminal Seloaji Ponorogo lewat Trenggalek, Bendungan Pagerwojo, kota Trenggalek lewat Pasar Ngemplak, sampai terakhir sini Gayatri,” ujar Sujarmani

Diketahui bahwa Damri merupakan satu-satunya angkutan umum yang melewati Bendungan Wonorejo yang sebelumnya menjadi trayek Mobil Penumpang Umum (MPU) lokal. Tapi kini sudah tidak beroperasi lagi bahkan sudah dianggap tidak ada.

“Sebetulnya kita punya MPU yang ke arah Pagerwojo tap ikan dalam kurun waktu beberapa tahun ini sudah mati to, tidak ada yang ngurus trayek, kendaraannya juga sudah tidak relevan tidak regenerasi dan tidak layak, dia mundur trayeknya tidak dijalanin,“ tegasnya.

Ketergantungan masyarakat terhadap keberadaan Bus Damri diharapkan mampu menjadi angkutan umum yang dapat memudahkan masyarakat Tulungagung dalam menjangkau wilayah yang terisolasi.

“Karena tidak ada alternatif untuk lewat sana, itu sangat ketergantungan Masyarakat. Itu orang-orang Ponorogo banyak yang belanja di Tulungagung,” tutupnya.

Begitu pula bagi masyarakat Ponorogo yang hendak menuju Tulungagung terutama ke Pasar Ngemplak yang menjadi pasar grosir mulai dari Tulungagung, Blitar, Trenggalek.

“Dari Masyarakat Ponorogo ke Tulungagung biasanya itu kan ke Ngemplak toh, Pasar Ngemplak menjadi pasar grosir mulai dari kota Blitar, Tulungagung, Blitar, Trenggalek itu pusatnya di pasar Ngemplak,” jelasnya.

Trayek perintis ini mulai beroperasi mulai dari tahun 2016 dan mengalami perkembangan setiap tahunnya.

Untuk trayek yang dilewati Damri antara lain mulai dari terminal Seloaji Ponorogo -Trenggalek - Pagerwojo - Pasar Ngemplak - Terminal Gayatri Tulungagung.

“Jadi trayek perintis dari Terminal Seloaji Ponorogo lewat Trenggalek, Bendungan Pagerwojo, kota trenggalek lewat Pasar Ngemplak, sampai terakhir sini Gayatri,” ujar Sujarmani

Diketahui bahwa damri merupakan satu-satunya angkutan umum yang melewati Bendungan Wonorejo yang sebelumnya menjadi trayek Mobil Penumpang Umum (MPU) lokal.

Tetapi sekarang sudah tidak beroperasi lagi bahkan sudah dianggap tidak ada.

“Sebetulnya kita punya MPU yang ke arah Pagerwojo tap ikan dalam kurun waktu beberapa tahun ini sudah mati to, tidak ada yang ngurus trayek, kendaraannya juga sudah tidak relevan tidak regenerasi dan tidak layak, dia mundur trayeknya tidak dijalanin,“ tegasnya.

Ketergantungan masyarakat terhadap keberadaan Bus Damri diharapkan mampu menjadi angkutan umum yang dapat memudahkan masyarakat Tulungagung dalam menjangkau wilayah yang terisolasi.

“Karena tidak ada alternatif untuk lewat sana, itu sangat ketergantungan Masyarakat.

Itu orang-orang Ponorogo banyak yang belanja di Tulungagung,” tutupnya.**

Reporter: Muhammad Atok Ulaziz, Sofiya Putri Anggraini

Editor: Umi Hasanah

Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra
#Trayek #MPU #bus damri