TULUNGAGUNG - Beberapa wilayah di Kabupaten Tulungagung sedang memasuki masa panen. Para petani pun bisa tersenyum lebar lantaran harga gabah basah cenderung tinggi.
Namun demikian, harga gabah basah masih mengalami fluktuasi. Sangat mudah berubah dalam hitungan pekan bahkan hanya dalam hitungan hari.
Baca Juga: Kekurangan SDM, Dinas Pertanian Tulungagung Berencana Serap PPPK Formasi Penyuluh Pertanian
Salah satu desa yang kini masuk musim panen adalah Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu.
Salah satu petani desa Sobontoro, Muksim menerangkan, harga gabah basah paling tinggi sempat berada diangka Rp 6.800 per kilogramnya.
“Harga gabah (basah) paling tinggi pada tanggal 20 an September. Saat itu dihargai sampai Rp 6.800 per kilogramnya,” ungkap Muksim.
Baca Juga: Pertanian Jagung dan Padi Jadi Potensi Unggulan Desa Dono, Sendang
Dan untuk minggu ini, harga gabah basah mulai menurun berada diangka Rp 6.400 per kilogramnya.
Menurut dia, harga sangat dipengaruhi oleh pengepul gabah yang datang ke desa tersebut.
“Kalau harga setiap bakul (pengepul gabah) sebenarnya memiliki harga berbeda. Terkadang mereka bersaing harga, tetapi saat ini harganya sama di Rp 6.400 perkilogram,” bebernya.
Harga itu, lanjut Muksim, sudah patut untuk disyukuri.
Baca Juga: Musim Kemarau, 168 Titik Saluran Irigasi di Tulungagung Diwaspadai, DPUPR Rilis Status Keamanan
Apalagi hasil panen juga cukup melimpah meskipun musim kemarau yang terjadi cukup panjang.
“Kalau sini masih enak karena sawah teraliri dengan irigasi dan masih mendapatkan air meskipun saat musim kemarau,” ujarnya.
“Kalau hama yang paling utama mungkin burung pipit yang memakan padi. Tetapi untungnya tidak terlalu berdampak pada hasil panen,” tutupnya. ***
Editor : Mukhamad Zainul Fikri