TULUNGAGUNG - Hasil audiensi berjalan lancar, ihwal dua pelajar (siswa dan siswi) terlibat cekcok di ruang kelas Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Boyolangu (SMABOY) Tulungagung, Senin (30/9/2024).
Wakil Kepala SMABOY Tulungagung dan Humas Mu'arif menjelaskan, pihak sekolah sebagai fasilitator telah mengundang beberapa pihak bersangkutan perihal inisden tersebut.
Pihak-pihak yang hadir meliputi, wali murid kedua belah pihak, lalu juga ada unit PPPA dan kepolisian sebagai saksi.
"Kami mengucapkan terimakasih kepada wali murid yang sudah mengindahkan undangan dari pihak sekolah. Kita jelaskan duduk permasalahan yang terjadi di sekolah, disaksikan pihak kepolisian,"
"Dalam audiensi kemarin, supaya tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan di sosial media," ungkap Mu'arif, kepada wartawan Jawa Pos Radar Tulungagung, Selasa (1/10/2024) siang.
Hasil audiensi, kata dia, pihak keluarga siswa inisial R sudah meminta maaf kepada pihak sekolah, karena insiden itu memicu kegaduhan.
Kemudian untuk mengantisipasi dampak psikis yang dialami si siswi, Mu'arif meminta pihak keluarga dari siswa untuk membuat surat pernyataan bahwa insiden itu murni kecelakaan, tidak ada unsur-unsur kekerasan.
"Kita ajak agar tidak menjadi permasalahan berkepanjagan hingga menyebabkan beban psikologis, utamanya pihak putri, karena dia sensitif dengan masalah perasaan," ucapnya.
"Maka, kemarin disaksikan juga orangtua, pihak sekolah, kepolisian, dan unit perlindungan anak. Intinya sudah selesai dan dua anaknya juga sudah masuk sekolah, tidak ada saling menutut, kejadian ini murni kecelakaan," tambahnya.
Insiden cekcok antara siswa dan siswi SMABOY Tulungagung itu pun sudah diselesaikan secara kekeluargaan.
Kemudian menyinggung ganti rugi pintu ruang kelas yang rusak akibat insiden tersebut, Mu'arif menganggapi, seluruh inventaris di ruang kelas merupakan tanggung jawab dari ruang kelas.
Inventaris itu tak cuma pintu, tapi juga gambar presiden, alat tulis, alat-alat kebersihan, dan sebagainya, itu adalah tanggung jawab kelas.
Namun dalam insiden lalu, inventaris pintu kaca pecah akibat kelalaian seorang siswa, sehingga ganti rugi dibebankan kepada pihak yang bertanggung jawab.
"Ya, jadi itu sudah menjadi poin dari sekolah untuk menjaga inventaris barang dari sekolah. Misal pintu kaca itu pecah diakibatkan ulah satu orang,"
"Maka yang bertanggung jawab itu adalah dia yang memecahkannya dan itu sudah disetujui pihak penanggungjawab," jelasnya.
Selebihnya, Mu'arif mengimbau agar insiden ini menjadi pembelajaran khususnya bagi siswa-siswi SMABOY Tulungagung. Ia berharap, agar siswa-siswi sadar posisi dan tanggungjawabnya.
"Saya sampaikan saat upacara, sadar posisi. Misal anak-anak itu sekarang menjadi siswa, maka posisinya belajar. Apa-apa yang dilakukan di sekolah itu diikuti, kalau waktunya belajar efektif, maka ya harus belajar secara efektif di kelas, atau mengikuti arahan bapak ibu guru," tegasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra