Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Empat Bulan Sudah Kekeringan Melanda Tulungagung, 11.608 Jiwa Terdampak

Aditya Yuda Setya Putra • Kamis, 10 Oktober 2024 | 21:15 WIB

MERANGGAS: Pepohonan pelindung jalan Desa Rejosari, Kecamatan Gondang, tampak masih menggugurkan daunnya selama musim kemarau.(DR PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)
MERANGGAS: Pepohonan pelindung jalan Desa Rejosari, Kecamatan Gondang, tampak masih menggugurkan daunnya selama musim kemarau.(DR PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)

TULUNGAGUNG – Empat bulan sudah kekeringan menghampiri masyarakat Tulungagung, khususnya di wilayah pinggiran.

Tercatat per 6 Oktober kemarin sudah ada 19 desa di 10 kecamatan yang terdampak. Tak ayal hampir setiap hari BPBD Tulungagung mengirim bantuan air bersih jika ada permintaan.

Baca Juga: Waspada Ancaman Heat Stroke Selama Peralihan Musim

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tulungagung Gilang Zelakusuma mengatakan, saat ini kemarau masih membawa dampak kekeringan di Kota Marmer.

Alhasil, pihaknya terus memantau perkembangan kondisi di lapangan seperti apa. Apalagi, musim kemarau juga belum berakhir. “Kami terus memantau perkembangan kemarau seperti apa, khususnya dampak yang dirasakan masyarakat,” katanya Rabu (9/10).

Gilang -sapaan akrabnya- melanjutkan, hingga 6 Oktober lalu, tercatat ada 19 desa di 10 kecamatan yang terdampak kekeringan.

Jika lebih diperinci, kekeringan ini berdampak pada 4.234 KK dan 11.608 jiwa. “Data terbaru seperti itu dan akan terus kami perbarui,” tambahnya.

Baca Juga: Musim Kemarau, 168 Titik Saluran Irigasi di Tulungagung Diwaspadai, DPUPR Rilis Status Keamanan

Bahkan, saking banyaknya warga terdampak, BPBD pun mencatat jika kiriman air bersih mencapai 268 rit. 

Sebelumnya, Forecaster Stasiun Klimatologi BMKG Karangkates, Andang Kurniawan mengaku, pergerakan gelombang atmosfer berpotensi menimbulkan hujan secara merata di wilayah Jatim.

"Tapi, ini belum mulai hujan. Masih proses peralihan," sebutnya.

Salah satu dampaknya, kata Andang, potensi munculnya cuaca terik justru akan meningkat. Sebab, pergerakan atmosfer yang bertemu dengan kelembapan tinggi di permukaan daratan akan meningkatkan suhu udara.

Baca Juga: Kemarau Panjang, 9 Desa di Tulungagung Dilanda Kekeringan

Akibatnya, cuaca di siang hari terasa lebih menyengat dan terik. "Itu karena panas akan terasa lebih menyengat kalau disertai dengan kondisi lembap. Kalau panas saja tapi tidak lembap ya tidak akan terasa (panas, Red)," katanya.

Poin penting yang patut dijadikan perhatian adalah peningkatan suhu dan munculnya cuaca terik bisa berpengaruh pada kondisi kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah heat stroke alias serangan panas.

Kondisi ini bisa terjadi bila tubuh tak bisa beradaptasi dengan paparan hawa panas luar ruangan.

Editor : Dharaka R. Perdana
#kemarau tulungagung #kemarau #bpbd tulungagung #kekeringan