TULUNGAGUNG - Terminal Gayatri atau dulu disebut Terminal Tulungagung menjadi saksi bisu tumbangnya banyak perusahaan otobus (PO) jalur Surabaya-Trenggalek.
Saat ini semua orang juga memahami jika Terminal Gayatri merupakan terminal utama dan terbesar di Tulungagung.
Namun tahukah kamu jika sebenarnya ada banyak pilihan nama sebelum Pemkab Tulungagung menamai Terminal Gayatri pada 2013 silam.
Bahkan terkait nama ini sempat menimbulkan polemik.
Dikutip dari Facebook Terminal Tipe A Gayatri Tulungagung Kelompok Kajian Sejarah dan Budaya (KKSB) Tulungagung memprotes penggunaan nama "Gayatri" untuk labelisasi terminal tipe B setempat.
Karena pemkab dianggap tidak menghargai jerih payah dan intelektualitas mereka selaku pencetus nama tersebut.
Sejumlah ahli sejarah maupun budayawan daerah yang tergabung dalam KKSB pada Oktober 2012 mendapat mandat dari bupati melalui dinas pariwisata setempat, guna mencari nama yang pantas untuk Terminal Tulungagung yang tengah dibangun tersebut.
Atas dasar mandat itu, KKSB lalu menyetorkan lima nama alternatif, di antaranya: Terminal Kembang Sore, Djayengkusumo, Ngrowo, Gayatri, dan Mojorame.
Meski belum adanya kesepakatan ataupun keputusan yang terkonfirmasikan ke pihak KKSB selaku penggagas, ternyata nama terminal sudah muncul dan dipasang pada pintu
masuk terminal.
Kepala Dinas Pariwisata Tulungagung, Hendri Sugiarti (saat itu) berdalih telah terjadi miskomunikasi antara pemerintah daerah dengan pihak KKSB.
Dinas Pariwisata pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (sekarang Dinas Perhubungan) terkait penggunaan label "Gayatri" tersebut.
Namun belum sempat Dinas Pariwisata Tulungagung mengonfirmasi dan memberi penghargaan terhadap KKSB, Dishubkominfo keburu memasang nama tersebut atas perintah Bupati Heru Tjahjono.
Nama Gayatri diusulkan KKSB dengan alasan tokoh perempuan pada masa Kerajaan Majapahit tersebut pernah singgah di Tulungagung.
Semasa hidupnya, Gayatri juga dipandang memiliki peran besar dalam perkembangan masyarakat Tulungagung kala itu.
Editor : Dharaka R. Perdana