TULUNGAGUNG - Jembatan Mojo di Tulungagung yang menghubungkan Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu dengan Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol patah pada Senin (16/12) dini hari.
Akses warga pun terganggu, sampai harus berputar sejauh 4 kilometer (km) karena jembatan di selatan Tulungagung itu kini tidak bisa dilewati.
Baca Juga: Separuh Jalan di Tulungagung Amblas, Pengguna Jalan harus Melintas Bergantian
Nampak sejumlah pengguna jalan kecewa, lantaran jalur yang biasa dilalui terpaksa ditutup.
Tak sedikit pengguna jalan memilih untuk melalui jalur alternatif dengan memutar sejauh 4 kilometer
Warga setempat, Sumianto mengatakan, hujan deras selama enam jam mengakibatkan patahnya Jembatan Mojo.
Padahal jembatan tersebut biasa digunakan masyarakat sebagai jalur penghubung antardesa.
Menurut dia patahnya jembatan penghubung tersebut terjadi pada Senin (16/12) sekitar pukul 03.30 WIB.
Para pengguna jalan terpaksa memilih jalur alternatif untuk melanjutkan aktivitasnya.
Baca Juga: Banjir, Jalur Trenggalek-Tulungagung Lumpuh, Ini yang Dilakukan Satlantas Polres Trenggalek
“Patahnya itu sekitar pukul 03.30 WIB. Alhasil banyak pengguna jalan yang memutar ke jalur alternatif,” jelasnya.
Diduga patahnya jembatan penghubung ini lantaran debit air sungai yang deras sehingga membuat volume air sungai semakin tinggi.
Tak hanya itu, banyaknya enceng gondok serta gelondongan kayu semakin memperparah pada tekanan jembatan tersebut.
Tentu kondisi ini menghambat aktivitas warga.
Pihaknya berharap agar jembatan penghubung tersebut dapat segera diperbaiki, sehingga dapat digunakan kembali.
“Alternatifnya ya harus mutar ke lewat Wajak terus ke Dusun Kedungjalin, ya sekitar 2 kilometer,” pungkasnya.
Baca Juga: Ngeri, Ini Sejumlah Wilayah di Trenggalek yang Terdampak Banjir, Kelurahan Kelutan Paling Parah
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Junjung, Hari Santosa membenarkan jika jembatan di desanya patah.
Jembatan yang dibangun pada 1980 itu tak mampu menahan dan patah pada bagian tengah.
Untungnya tidak ada warga yang melintas saat kejadian. “Jembatan ini patah sekitar Subuh,” ungkapnya.
Dia melanjutkan derasnya arus Sungai Parit Agung tidak hanya merusak jembatan.
Baca Juga: SMPN 2 Tulungagung: Berkreasi dengan Pesona Bambu, Karya-karya Kreatif Empero Berbahan Bambu
Melainkan, ada beberapa titik plengsengan yang longsor.
Di Desa Junjung saja setidaknya ada 2 titik plengsengan yang longsor.
Dia berharap instansi terkait bisa cepat melakukan perbaikan pada jembatan yang patah dan plengsengan longsor ini. Karena, jembatan itu merupakan akses utama bagi warganya.
Baik yang ingin ke Boyolangu atau sebaliknya. Tanpa jembatan itu, warga harus berputar sejauh 4 km.
“Kalau plengsengan yang longsor ini tidak segera diperbaiki bisa berbahaya bagi warga dan makin parah,” akunya. ***
Editor : Dharaka R. Perdana