Tulungagung - Rusaknya sejumlah infrastruktur, terutama jalan dan jembatan di Kota Marmer, ikut membuat Dinas Perhubungan (Dishub) Tulungagung berpikir keras.
Bahkan, mereka harus memikirkan jalur-jalur alternatif yang bisa dilintasi.
Khususnya jalan di Dusun Mojogitik, Desa Gedangan, Kecamatan Karangrejo, yang amblas pada Minggu (15/12) malam.
Kabid Lalu Lintas Panji Putranto mengatakan, hujan deras pada Minggu malam lalu memang berimbas pada jalur transportasi yang sering dilintasi masyarakat Tulungagung.
Tentunya ini bisa mengganggu aktivitas masyarakat yang hilir mudik untuk berbagai keperluan dan harus dilakukan rekayasa jalur.
"Di catatan kami, ada dua titik infrastruktur di jalur transportasi yang terdampak. Yakni, Jembatan Mojo di perbatasan Junjung-Wajak Kidul yang patah dan jalan amblas di Gedangan," katanya.
Menurut dia, pengalihan jalur di sekitar Jembatan Mojo terhitung lebih mudah.
Mengingat, para pelintas masuk kategori internal dan banyak jalan alternatif di sekitar lokasi tersebut.
Sementara untuk jalan amblas di Desa Gedangan, Kecamatan Karangrejo, harus berpikir lebih karena jalan alternatif terhitung lebih sedikit.
Belum lagi, lokasinya berada di area perbukitan.
"Untuk jalan amblas di Gedangan menjadi salah satu yang kami pikirkan untuk jalur alternatifnya," tambahnya.
Panji -sapaan akrabnya- melanjutkan, dari pengamatannya, kendaraan roda empat sebenarnya masih bisa melintasi jalur tersebut.
Baca Juga: Jembatan Mojo di Tulungagung Patah, Ini Langkah yang Diambil Pemkab
Namun untuk kendaraan bertonase besar harus melalui jalur alternatif yang sudah disiapkan.
Mengingat, kondisi sekitar jalan yang amblas hanya tersisa satu jalur dan rawan terjadi longsor susulan.
"Kendaraan besar tentu tidak bisa melintasi jalur ini karena rawan longsor lagi. Sedangkan kendaraan kecil masih memungkinkan," ujarnya.
Pria ramah ini pun bakal berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Sendang untuk menyosialisasikan batas tonase kendaraan yang bisa melintasi jalur di wilayah mereka.
Mengingat, beban maksimal jalan alternatif belum tentu mampu menahan kendaran besar, khususnya truk pengangkut susu yang sering hilir mudik di jalur itu.
"Yang pasti untuk jalur alternatif harus melintasi Desa Tanjungsari, Kecamatan Karangrejo," tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri