Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Perbaikan Infrastruktur Terdampak Bencana di Tulungagung Butuh Rp 16 Miliar

Redaksi Radar Tulungagung • Sabtu, 21 Desember 2024 | 03:03 WIB
Seorang pencari rumput melintasi jembatan di Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, yang patah beberapa waktu lalu.(DR PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Seorang pencari rumput melintasi jembatan di Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, yang patah beberapa waktu lalu.(DR PERDANA/RADAR TULUNGAGUNG)

Tulungagung – Rusaknya infrastruktur di Tulungagung akibat bencana hidrometeorologi membuat pemkab harus bergerak cepat.

Apalagi untuk perbaikan membutuhkan duit yang tidak sedikit.

Alhasil, eksekutif Tulungagung mengajukan belanja tak terduga (BTT) ke Pemprov Jawa Timur sebesar Rp 16 miliar untuk penanggulangan bencana.

Duit ini bakal digunakan untuk memperbaiki infrasktruktur yang rusak karena bencana alam.

Yakni, jalan Desa Gedangan, Kecamatan Karangrejo, yang amblas; jembatan Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol, yang patah; dan talut jalan di Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, yang longsor.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tulungagung, Dwi Hari Subagyo, mengatakan bahwa pihaknya memang langsung bergerak untuk mengajukan bantuan dana perbaikan infrastruktur akibat bencana alam.

Dia pun mengeklaim sudah ada sinyal positif mengenai pengajuan ke Pemprov Jawa Timur itu.

“Tentunya harus didahului kajian teknis dari tim survei BPBD provinsi dan Dinas PU Bina Marga Jawa Timur,” jelasnya.

Hari -sapaan akrabnya- menambahkan, kebutuhan dana setiap titik infrastruktur berbeda-beda.

Rinciannya, jalan antara Kecamatan Sendang dan Karangrejo di Desa Gedangan yang putus membutuhkan Rp 2 miliar.

Nantinya untuk membangun talut setinggi 35 meter dengan panjang 50 meter.

Kemudian, Jembatan Junjung yang patah membutuhkan anggaran Rp 7 miliar untuk membangun jembatan baru.

“Informasinya, di atas jembatan patah itu bakal dipasangi jembatan bailey untuk sementara waktu,” sambungnya.

Sementara untuk talut jalan antarkecamatan di Desa Samar juga bakal digelontor Rp 7 miliar.

Namun, titik ini bakal dikaji tim ahli independen untuk merumuskan penanganan terbaik.

Alasannya, jalur alternatif menuju Trenggalek dan Ponorogo ini diperkirakan berada di area tanah gerak.

Indikasinya ditemukan rekahan tanah dan enam titik mata air di bawah talut, serta diperkirakan ada aliran sungai bawah tanah.

“Perlu ada kajian khusus karena lokasinya diperkirakan tanah gerak. Tim independen ini akan merumuskan solusi penanganannya,” tegas Hari.

Di sisi lain, Dinas PUPR Tulungagung harus membuat perencanaan tiga infrastruktur yang rusak, tetapi belum ada DED (detail engineering design).

Perencanaan ini nantinya akan dievaluasi tim dari Pemprov Jawa Timur dan bakal dikerjakan pada 2025 menunggu penyelesaian DED.

“Lagi pula tahun 2024 tinggal menyisakan beberapa hari. Pembuatan DED juga membutuhkan waktu. Penggunaan dana BTT bisa mempercepat proses karena tidak membutuhkan lelang. Bisa dengan penunjukan langsung,” tandasnya.

Sekadar mengingatkan, hujan deras pada Minggu (15/12) membawa malapetaka bagi infrastruktur di Tulungagung.

Tercatat ada dua titik yang mengalami kerusakan.

Yakni, jembatan yang menghubungan Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol dan Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu; serta amblasnya jalan di Dusun Mojogitik, Desa Gedangan, Kecamatan Karangrejo.

Akibatnya, pengguna jalan harus mengambil jalur alternatif. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#perbaikan infrastruktur #belanja tak terduga #Bencana hidrometeorologi #bpbd #jembatan