Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Puluhan Sapi di Tulungagung Terindikasi PMK, Ternyata di Wilayah Ini yang Paling Banyak

Aditya Yuda Setya Putra • Jumat, 3 Januari 2025 | 19:10 WIB
Peternak sapi di Kecamatan Gondang, Tulungagung, saat memberi pakan ternaknya.(YOGA DANY DAMARA/RADAR TULUNGAGUNG)
Peternak sapi di Kecamatan Gondang, Tulungagung, saat memberi pakan ternaknya.(YOGA DANY DAMARA/RADAR TULUNGAGUNG)

Tulungagung - Kesehatan hewan ternak berkuku belah di Bumi Ngrowo Tulungagung sedang jadi perhatian.

Sebab, puluhan sapi di sejumlah wilayah Tulungagung dilaporkan terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK).

Pembatasan lalu lintas ternak antarwilayah Tulungagung coba dioptimalkan untuk meminimalkan dampak.

Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Tulungagung, Tutus Sumaryani mengungkapkan, penyakit ini mulai kembali marak begitu masuk musim penghujan.

Itu karena virus atau bakteri penyebab PMK mudah beradaptasi dengan kondisi cuaca yang lembap.

"Karena kelembapan udara tinggi, titik di situ kan banyak virus dan bakteri muncul kembali," katanya.

Dia menerangkan, kondisi PMK di Tulungagung terbilang lebih terkendali dibanding kota/kabupaten lain di Jatim.

Itu karena tingkat kesadaran untuk menjaga higienitas kandang dari para peternak yang terus meningkat.

Adanya langkah cepat dari para peternak untuk segera melaporkan ternak bergejala juga ikut menekan jumlah PMK.

"Ada laporan ya sapi-sapi yang baru datang bergejala. Paling sekitar di beberapa kecamatan yang tidak semasif dulu. Sekitar 60-70 (ekor sapi, Red), menyebar dari akhir November," jelasnya.

Tapi, sampai saat ini belum ditemukan atau didapati laporan ihwal ternak yang mati akibat PMK.

Tutus menyebut masifnya vaksinasi PMK yang digelar beberapa waktu lalu turut menekan angka sebaran PMK di pengujung 2024.

"Bahkan, mereka sudah sadar vaksin. (Paling banyak ditemukan di, Red) daerah perbatasan dengan Blitar, sekitar Rejotangan," ujar Tutus.

Salah satu sebab penyebaran PMK adalah lalu lintas ternak melalui jual beli antarwilayah.

Sayang, opsi untuk menutup lalu lintas ternak sulit direalisasi.

Alasannya, hal itu dikhawatirkan akan menyebabkan roda ekonomi di Tulungagung dan sekitarnya jadi terganggu.

"Kalau di Tulungagung, kita memang tidak bisa membendung karena lalu lintas ternak begitu tinggi. Apalagi di pasar hewan kan dari beberapa kabupaten, ndak hanya di wilayah kita. Di Tulungagung memang sudah ada, tapi sifatnya masih sporadis," ucapnya.(dit/c1/rka)

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#vaksinasi #sapi #hewan ternak #pmk #Disnakkeswan