Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Pasar Hewan di Tulungagung Tutup Sementara, Disperindag: Retribusi Hilang Banyak

Aditya Yuda Setya Putra • Rabu, 8 Januari 2025 | 21:20 WIB
Seorang peternak saat memberi pakan sapi ternaknya di kandang.
Seorang peternak saat memberi pakan sapi ternaknya di kandang.

Tulungagung - Disperindag Tulungagung kini mulai membuat pemetaan atas sebaran pasar hewan di wilayah Bumi Ngrowo.

Hal ini berkaitan dengan upaya monitoring untuk memastikan tak ada aktivitas jual beli selama periode penutupan sementara.

Kabid Pengelolaan Pasar Disperindag Tulungagung, Mohamad Khabib mengungkapkan, sosialisasi dan komunikasi lintas sektor sudah dilakukan nuntuk menindaklanjui SE penutupan pasar hewan sementara waktu.

Nantinya, seluruh pasar sapi dan kambing di bawah naungan pemkab dipastikan harus steril dari aktivitas jual beli.

“Ada delapan (pasar hewan, Red). Itu semua diharapkan untuk penutupan. Jadi, bukan dibuatkan spanduk di depan pasar masing-masing dan disebarkan ke grup pedagang,” akunya.

Untuk diketahui, ada sembilan pasar hewan yang dikelola disperindag.

Satu di antaranya merupakan PHT yang menjual ternak jenis sapi dan kambing.

Lalu, delapan pasar lainnya menyediakan ternak kambing. Rinciannya, pasar hewan di wilayah Bandung, Karangrejo, Campurdarat, Karangtalun, Domasan, Rejotangan, Bendilwungu, dan Dono.

Dari segi ekonomi, kata Khabib, kebijakan ini akan berdampak pada pendapatan dari sektor retribusi pasar.

Dia mengungkapkan, PHT menghasilkan retribusi sekitar Rp 18 juta per bulan.

Ditambah dengan delapan pasar hewan lain, jumlah retribusi mencapai sekitar Rp 22 juta per bulan.

“Itu tadi hitungan satu bulan. Dalam satu bulan, ada enam kali (hari, Red) pasaran. Per pasaran sekitar Rp 3 juta untuk PHT saja. Yang lain kisaran Rp 1 juta (per hari pasaran, Red),” sebutnya.

Menurut dia, para peternak dan pedagang hewan ternak di Tulungagung punya kesadaran tinggi terkait bahaya PMK.

Buktinya, para pedagang di PHT menginisiasi penutupan pasar sejak 5 Januari lalu.

Itu sebabnya, dia menilai kebijakan penutupan pasar hewan di seluruh Tulungagung tidak akan menuai masalah di lapangan.

“Yang PHT itu atas inisiasi pedagang sapi sendiri. Awalnya, pedagang sapi menghadap ke koordinator di tanggal 25. Itu sudah laporan, karena setelah pulang, sapinya malah sakit. Akhirnya di tanggal 5 kemarin, pas pasaran Pahing, sekitar 20 pedagang mengusulkan PHT ditutup,” bebernya. (dit/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#ternak #disperindag #pasar hewan #jual beli #pmk