Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cegah Penyebaran PMK Lebih Masif, Ini Langkah yang Diambil Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Tulungagung

Aditya Yuda Setya Putra • Senin, 13 Januari 2025 | 02:33 WIB

Petugas Disnakkeswan Tulungagung sedang menyemprot areal Pasar Hewan Terpadu dengan disinfektan (ADITYA YSP/RADAR TULUNGAGUNG)
Petugas Disnakkeswan Tulungagung sedang menyemprot areal Pasar Hewan Terpadu dengan disinfektan (ADITYA YSP/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Pasar hewan terpadu (PHT) di Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung jadi lokasi pertama penyemprotan cairan disinfektan pada Jumat (10/1).

Langkah ini diambil sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak berkuku belah di Tulungagung.

Baca Juga: Penjualan Daging Sapi di Tulungagung Ikut Terdampak PMK, Harga Tak Naik, Tapi .....

Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Tulungagung, Tutus Sumaryani mengatakan, sejumlah pihak terkait digandeng.

Mulai dari BPBD, disperindag, hingga jajaran TNI/Polri.

"Untuk sementara, kita laksanakan setiap (hari, Red) pasaran. Karena untuk efektivitas kerja obat sepekan itu masih efektif. Kalau untuk disinfeksi, kita agendakan di seluruh pasar di Tulungagung. Tapi untuk pelaksanaan di pasar hewan dilakukan oleh koordinator pasar," ucap perempuan berjilbab ini.

Baca Juga: Kisah Mbah Dunuk, Manusia Tertua di Tulungagung Berusia 150 Tahun

Disinggung ihwal tingkat efektivitas upaya penyemprotan disinfektan, dia menerangkan bahwa disinfektan bersifat menekan dan mencegah penyebaran virus.

Itu penting guna memutus rantai penyebaran PMK.

"Sehubungan dengan panutupan pasar kan kita njagani ada virus di sekitar lingkungan pasar. Kalau dilakukan disinfeksi bisa mati virusnya," kata dia.

Baca Juga: Dugaan Kasus Korupsi di Desa Tanggung Tulungagung Segera Masuk Tahap Dua

Selain itu, upaya lain yang bisa dilakukan adalah vaksinasi ke hewan ternak.

Tutus mengatakan, saat ini pihaknya masih menanti petunjuk vaksinasi dari Pemprov Jatim. Sebab, stok vaksin PMK di Pemkab Tulungagung sudah habis.

"Hari ini kita nggak ada (vaksin, Red)," akunya.

Per Jumat kemarin, total ada 86 ekor sapi yang dilaporkan terjangkit PMK.

Dari jumlah itu, total ada 9 ekor sapi yang mati. Untuk diketahui, rekapitulasi dilakukan setiap pekan oleh dinas.

Laporan di-update setiap awal pekan.

Baca Juga: Laka Bus Umum di Tulungagung Menurun, PO Harapan Jaya dan PO Bagong Sumbang Laka Terbanyak di Tahun 2024

"Terakhir yang sakit ada 26 ekor dalam recovery. Kalau total kurang lebih 86 ekor. Itu dari akhir November 2024. Ada yang potong paksa, ada yang mati. Yang potong paksa 9 ekor. Yang mati 3 ekor," ujar Tutus.

Dia merinci, sapi yang terjangkit PMK bukan berasal dari populasi ternak yang sudah tervaksin di Tulungagung, melainkan dari luar daerah.

Karena belum terdekteksi, peternak menempatkan sapi terjangkit PMK dengan sapi sehat di kandang.

Baca Juga: Konflik Pencak Silat Masih Jadi Prioritas Ditahun 2025

"Iya, hasil surveilans, memang ternak baru yang dari luar kota," ucapnya.

Dia juga mengimbau agar para peternak di Tulungagung segera melakukan vaksinasi secara mandiri.

Sebab, pencegahan harus dilakukan sejak sapi berada di kandang sebelum dibawa ke pasar untuk dijual.

"Karena kita didorong dari pusat agar pelaku usaha lakukan vaksin secara mandiri. Kalau vaksinasi mandiri itu satu botolnya untuk 25 ekor," tandasnya. ***

Editor : Dharaka R. Perdana
#pht #Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) #Pasar Hewan Terpadu #penyakit mulut dan kuku #Penyemprotan #pasar hewan #pmk #penyemprotan disinfektan