Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Elpiji Melon Naik, Pedagang Makanan Kecil di Tulungagung Tetap Banderol Harga Lama

Redaksi Radar Tulungagung • Minggu, 19 Januari 2025 | 19:41 WIB
Pedagang kaki lima ikut merasakan dampak kenaikan elpiji melon. Mereka enggan naikkan harga dagangan lantaran takut sepi pembeli.
Pedagang kaki lima ikut merasakan dampak kenaikan elpiji melon. Mereka enggan naikkan harga dagangan lantaran takut sepi pembeli.

Tulungagung - Kenaikan harga elpiji 3 kilogram membuat pedagang kaki lima (PKL) Tulungagung ketir-ketir.

Mereka pun segan menaikkan harga karena takut sepi pembeli. Imbasnya ini bisa berpengaruh pada omzet jualan mereka.

Salah seorang PKL di depan SMPN 4 Tulungagung, Sugeng Santoso mengungkapkan, harga gas elpiji naik juga memengaruhi omzet jualan.

Dalam sehari, dia bisa mendapatkan Rp 310 ribu.

Namun, dia terpaksa mengurangi keuntungannya guna bisa membeli gas elpiji.

"Kadang omzet tidak menentu, biasanya hanya Rp 310 ribu sehari. Itu pun akan berkurang, karena setiap tiga hari sekali saya pasti beli gas elpiji," keluhnya.

Pedangan cilok isi tersebut mengatakan, tidak hanya gas elpiji saja yang sedang naik saat, tetapi minyak tanah juga sedang naik.

Hal ini juga berdampak pada penjualannya.

"Dulu tidak hanya berjualan cilok saja, tapi juga menjual cimol. Namun melihat minyak tanah saat ini naik, saya tidak jualan cimol karena menggunakan minyak banyak," ungkapnya.

Dengan usaha yang sudah bertahan 4 tahun tersebut, dia tak akan berniat untuk menaikkan harga makanannya.

Dia cemas para pembelinya akan memilih pedagang yang lebih murah.

"Saat ini, saya hanya pasrah dan telaten saat berdagang. Toh rezeki sudah ada yang mengatur," ujar pria 65 tahun tersebut.

Hal serupa juga dialami Mulyanto, pedagang telur gulung di area Pinka, Tulungagung.

Dia mengungkapkan naiknya harga gas elpiji sudah biasa karena memang sering naik.

"Harga setiap penjual gas elpiji juga berbeda-beda, sekitar Rp 20 ribu sampai Rp 21 ribu," ujarnya, sambil menggulung telur di wajannya.

Pria ramah tersebut mengungkapkan bahwa saat ini penjualannya cukup sepi.

Dahulu, dia bisa menghabiskan 6 kilogram telur dalam sehari.

Namun saat ini hanya 4 kilogram telur dan itu pun dalam sehari tidak habis.

Dia pun tak mengerti penyebab sepinya pembeli saat ini.

Dalam usahanya, omzet yang dia dapatkan tidak setara dengan keuntungannya dulu.

Pada awal usahanya, sehari dia bisa mendapatkan Rp 450 ribu.

Namun sekarang hanya sekitar Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu sehari.

"Pada 2018 lalu, sehari banyak yang beli, sekitar Rp 20 ribuan. Alhasil, omzet yang didapatkan juga banyak," jelasnya.

Sama seperti Sugeng, Mulyanto tak berani untuk menaikkan harga per telur gulung.

Melihat saat ini pembeli juga mulai sepi, ditambah naiknya harga gas elpiji, membuat dia hanya bisa telaten dalam berjualan.

"Saya juga mikir, kalau harganya naik misal Rp 2 ribu per telur gulung, jadi sepi pembeli. La wong saat ini harga Rp 1 ribu per telur gulung saja pembelinya sedikit," pungkasnya. (mg1/c1/rka)

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#kenaikan harga #minyak tanah #omzet #telur #elpiji #Pinka