Tulungagung– Bukan hanya ternak berkuku belah, penurunan harga secara drastis juga terjadi pada ikan air tawar.
Meski hal ini tidak disebabkan oleh penyakit, jajaran DPRD meminta seluruh pihak untuk memberi perhatian khusus pada salah satu sektor ekonomi ini.
Wakil Ketua DPRD Tulungagung, Abdulah Ali Munib, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan dari sejumlah pembudi daya ikan air tawar di Bumi Ngrowo.
Dia menilai kondisi ini disebabkan oleh faktor ekonomi masyarakat yang dalam beberapa waktu terakhir lesu.
“Kalau masalah penurunan harga (ikan air tawar, Red), ini sesuai apa yang disampaikan pedagang. Memang konsumen itu sekarang daya belinya kurang,” ujarnya.
Anjloknya tingkat daya beli masyarakat berbanding terbalik dengan jumlah produksi ikan air tawar di Tulungagung dalam beberapa waktu terakhir.
Meski tak merinci angka pasti, dia mengungkapkan bahwa jumlah produksi ikan air tawar berlimpah.
“Dan produksinya itu masih banyak. Otomatis itu kan menurunkan harga. Kita belum bisa berbuat apa-apa. Karena untuk subsidi, regulasinya seperti apa juga belum tahu. Mungkin nanti kalau dalam waktu dekat, saya kira juga ada perubahan,” kata politikus PKB ini.
Secara spesifik, lanjut Munib, sektor budi daya ikan konsumsi memang terdampak.
Tapi, kondisi serupa juga terjadi di sektor budi daya ikan hias. Imbasnya tak sedikit ikan hias dari peternak atau pembudi daya yang tak terserap ke tengkulak.
Jika terus berlangsung, kondisi ini dikhawatirkan menyebabkan para peternak merugi.
“Saya juga peternak gurami. Harganya jatuh, termasuk ikan hias. Biasanya kalau umurnya (ikan, Red) sudah empat bulan langsung ada tengkulak. Tapi sekarang belum ada. Bukan ditahan, melainkan memang menunggu pedagang,” tegasnya.
Disinggung soal harga, Munib mengatakan bahwa saat ini ikan gurami kering di pasaran dihargai sekitar Rp 21 ribu per kilogram (kg).
Dan Rp 24-25 ribu per kg untuk ikan basah.
Harga ini belum bisa dibilang menguntungkan bagi peternak. Sebab, harga normal ikan gurami mencapai sekitar Rp 30 ribu per kg.
Sebab, ada berbagai biaya operasional yang harus dipenuhi oleh peternak.
Mulai dari pakan ikan, pompa air, sistem kelistrikan, sistem pembersih kolam, dan berbagai operasional lain.
Itu sebabnya, Munib mengimbau agar para peternak tetap berupa memastikan harga jual tak terlalu rendah.
“(Harus disesuaikan, Red) dengan harga pakan yang sekarang, terus harga ekonomisnya,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Perikanan Tulungagung, jumlah produksi ikan gurami di sepanjang 2024 lalu mencapai sekitar 20,82 ribu kg.
Produksi tertinggi terjadi pada April yang mencapai sekitar 1,86 ribu kg, dan produksi terendah terjadi pada Januari-Februari yang hanya mencapai sekitar 1,65 ribu kg. (dit/c1/wen)
Editor : Vidya Sajar Fitri