Aliansi Relawan untuk Penyelamatan Alam (ARuPA) dan Kelompok Tani Hutan (KTH) Agro Makmur Lestari Desa Besole bersiap menggelar program Selamatkan Hutan dan Lahan melalui Perbaikan Tata Kelola (SETAPAK).
Program yang didukung Asia Foundation ini diagendakan untuk digelar selama 18 bulan ke depan.
Direktur Eksekutif ARuPA, Edi Suprapto menjelaskan, program ini mengedepankan sisi ekonomis dan kelestarian hutan secara sejajar.
Untuk memastikan proses sosialisasi berdampak masif, ARuPA menggandeng stakeholder untuk menyuarakan pengelolaan kehutanan sosial dan juga kelompok tani.
Program ini menitikberatkan pada restorasi kawasan hutan di wilayah Desa Besole yang dikelola oleh KTH Agro Makmur Lestari yang mencapai luasan 845 hektar (ha). Adapun wilayah yang bakal direhabilitasi seluas 233 ha.
"Jadi, untuk 233 ha yang akan direhabilitasi nantinya akan ditanami tanaman hutan dan tanaman buah. Bisa berupa durian, alpukat, kopi dan cengkeh,” kata Edi, ditemui usai kegiatan, Rabu (22/1).
Hasil penanaman, lanjut Edi, memang tidak bisa dinikmati secara instan. Butuh waktu yang cukup panjang hingga produk hutan bisa diambil dan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomis, termasuk kelestarian hutan.
"Perlu lima tahun untuk bisa memanen itu semua," imbuhnya.
Meski begitu, KTH Agro Makmur Lestari bisa merasakan hasil pertanian meski memakan waktu yang lama. Salah satu produk yang dihasilkan berupa kopi yang juga dikelola oleh KTH.
Produk yang dimaksud berpotensi jadi komoditas unggulan jika dikenalkan ke masyarakat.
Disinggung soal alasan pemilihan wilayah Desa Besole, Edi mengungkapkan bahwa wilayah KTH Agro Makmur Lestari sudah mendapatkan Izin IPHPS sebagai pengelolaan Perhutanan Sosial.
Hal ini dipastikan dapat mendukung program berkelanjutan yang dikelola oleh KTH dan masyarakat sekitar.
Dia juga mengapresiasi KTH Agro Makmur Lestari dalam mengelola aset jangka panjang berupa tanaman tegakan buah yang bisa diambil hasilnya dan dirasakan sisi ekonomisnya.
"Selama ini KTH Agro Makmur Lestari cukup baik dalam mengelola dari sisi ekonomis dan kelestarian hutan atau agroforestri," ujarnya.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra