Tepatnya di jalur menuju Waduk Ranugumbolo dan Desa Wonorejo.
Longsor terjadi sekitar pukul 19.00 WIB.
Menyebabkan akses jalan tertutup total oleh material tanah, bebatuan, dan pohon tumbang.
Kepala Desa Mulyosari, Agil Wuisan mengatakan situasi cukup genting di lokasi kejadian.
Longsor terjadi akibat curah hujan yang sangat tinggi.
Untuk sementara, warga dan dinas terkait bekerja sama membersihkan material ringan seperti ranting pohon.
Namun, karena volume material longsor yang besar, penanganan masih menunggu alat berat dari PJT untuk proses evakuasi utama.
“Insya Allah, penanganan akan dimulai sore ini atau besok pagi," ungkap Agil saat dikonfirmasi.
Kini prioritas utama adalah membuka kembali akses jalan menuju Ranugumbolo.
Tim tanggap bencana memastikan bahwa semua langkah penanganan dilakukan secara cepat dan terkoordinasi untuk meminimalisir dampak lebih lanjut.
"Kami berharap akses segera pulih sehingga aktivitas warga dapat kembali normal," tutup Agil.
Sementara itu, Sukram, staf BPBD Tulungagung, menuturkan bahwa longsor pertama kali dilaporkan oleh sejumlah pemuda yang sedang berkemah di area Ranugumbolo.
“Mereka mendengar suara gemuruh dari bukit sekitar pukul 19.00 WIB dan segera melaporkannya ke posko BPBD pada tengah malam,” katanya.
Saat ini, jalan lingkar Mulyosari menuju Ranugumbolo tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun empat.
Bahkan, untuk pejalan kaki pun sangat sulit karena ketebalan material longsor menutupi seluruh badan jalan.
Upaya tanggap darurat langsung dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD, Polsek, Koramil, serta warga setempat.
Rambu-rambu peringatan telah dipasang di pertigaan jalan Desa Mulyosari untuk mencegah kendaraan melintas ke lokasi longsor.
Sukram menambahkan bahwa koordinasi intensif dengan dinas terkait telah dilakukan.
“Kami sudah meminta alat berat dari PJT, dan diharapkan sore ini proses pembersihan bisa dimulai,” tambahnya.
Dalam situasi ini, BPBD mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap potensi bencana, mengingat curah hujan di wilayah Tulungagung masih sangat tinggi.
"Kami terus melakukan sosialisasi ke desa-desa untuk memberikan edukasi mitigasi bencana. Dengan cuaca yang ekstrem seperti sekarang, kehati-hatian adalah kunci utama,” pesan Sukram.***
Editor : Mukhamad Zainul Fikri