Meski dinilai cukup melandai, kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Tulungagung masih terbilang mengkhawatirkan. Itu sebabnya, pemkab memutuskan untuk memperpanjang penutupan sementara dua pasar hewan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Tulungagung, Tutus Sumaryani menerangkan, kondisi penyebaran PMK di beberapa wilayah di sekitar Tulungagung masih mengkhawatirkan. Itu sebabnya pemkab memutuskan untuk memperpanjang penutupan dua pasar hewan.
“Beberapa kabupaten di sekitar wilayah Tulungagugn seperti Kediri, Blitar, Trenggalek dan mungkin lainnya baru mulai menutup, baru beberapa pekan lalu. Seandainya kita buka, kan sangat berisiko pedagang itu berbondong-bondong ke Tulungagung,” tegasnya.
Sedianya, sembilan pasar hewan di bawah naungan pemkab ditutup sementara selama periode 10-20 Januari. Kebijakan itu diambil sebagai upaya memutus penyebaran PMK di Bumi Ngrowo. Usai dilakukan evaluasi lebih lanjut, penutupan semetara diperpanjang hingga 9 Februari mendatang.
Kebijakan ini hanya berlaku di dua pasar sapi. Yaitu, pasar sapi Kaliwungu dan pasar hewam terpadu (PHT) di Sumbergempol. Pasar kambing diizinkan beroperasi kembali selaam tidak ada laporan munculnya PMK di lapangan.
Meski belum menerima informasi resmi, lanjut Tutus, penyebaran PMK di Tulungagung lebih terkendali dibanding penanganan di kota/kabupaten di sekitar Tulungagung. Hal itu juga tampak pada capaian vaksinasi dari tahun ke tahun.
“Memang lebih tinggi. Karena memang kalau dilihat secara umum kan capaian vaksinasi dari tahun ke tahun kemarin mereka jauh di bawah kita. Jadi, itu sangat mengkhawatirkan,” kata perempuan berjilbab ini.
Hingga Kamis (30/1) lalu, ada sebanyak 123 kasus sapi tertular PMK sejak akhir Desember lalu. dari jumlah itu, sebanyak 93 ekor sapi dinyatakan sembuh, dan 17-20 ekor sapi masih dalam pengobatan. Lalu, ada sebanyak 10 ekor sapi dipotong paksa dan tiga ekor sapi mati akibat PMK.
“Kalau untuk mortalitasnya sangat kecil. (Sekitar, Red) 5 Persen,” ungkapnya.
Disinggung soal vaksinasi, dia memastikan bahwa 10.500 dosis vaksin yang di-dropping dari pemprov di awal bulan ini sudah disalurkan sesuai instruksi. Tepatnya, ke tujuh puskeswan di Tulungagung. Meski begitu, tetap ada beberapa wilayah yang belum terjamah. Hal itu disebabkan oleh keterbatasan jumlah vaksin yang diterima oleh pemkab.
“Hanya beberapa desa aja yang ter-cover vaksin. Karena jumlah yang terbatas. Kemudian petunjuk dari provinsi kemungkinan nanti dalam pertengahan bulan sampai 10-15 (Februari, Red) mungkin nanti ada dropping lagi vaksin PMK dari provinsi,” akunya.