Tulungagung - Harga telur ayam arab di pasaran semakin anjlok.
Kondisi tersebut membuat kebanyakan peternak pusing tak dapat untung.
Hal ini seperti yang dirasakan oleh peternak ayam arab asal Desa/ Kecamatan Kalidawir.
Salah satu peternak ayam arab, Hasan mengaku, pasar yang sedang lesu jadi penyebab utama harga telur ayam arab anjlok.
Padahal, telur ayam arab merupakan salah satu jenis telur yang cukup penting bagi masyarakat.
Telur tersebut biasanya digunakan sebagai bahan pokok dalam membuat roti dan kue.
Juga sering dipakai sebagai caampuran utama dalam produksi jamu karena dipercaya mengandung banyak gizi, yang tidak kalah dari jenis telur ayam lainnya.
"Kalau harga telur ayam arab terus-terusan turun begini, bagaimana nasib kami para peternak," akunya.
Kecamatan Kalidawir sendiri terkenal sebagai kawasan sentra peternak ayam arab.
Hampir di setiap desa, mayoritas masyarakat menggeluti bisnis tersebut.
Namun, kini para peternak sedang mengalami masa sulit.
“Harga telur ayam arab turun cukup jauh dari biasanya. Biasanya harga dari kami (peternak, Red) minimal berkisar Rp 2 ribu per butir, tapi kini harganya anjlok hingga Rp 1.550 per butir,” katanya.
Hal yang tidak jauh berbeda ditambahkan salah satu peternak lainnya, Marjito.
Turunnya harga telur ayam arab diperkirakan karena permintaan pasar yang sedang lesu.
Padahal, kebutuhan untuk komoditas tersebut cukup banyak.
Saat ini, dia memiliki sekitar 6 ribu ekor ayam arab. Produktivitas harian telurnya mencapai 60 persen.
Biasanya, sebagian telur tersebut diambil oleh pabrik roti.
Sebagian lagi dijual seperti biasa.
"Dalam sehari, ayam-ayam saya ini makan tiga kali. Dan jumlah pakan yang dikeluarkan dalam sehari bisa mencapai 4 kuintal," imbuhnya.
Harga telur yang semakin merosot membuat dirinya dan para peternak lain tidak dapat untung.
Namun, para peternak hanya bisa sabar dan berharap harga telur ayam arab bisa kembali normal dan stabil.
Dia dan para peternak lainnya berharap telur ayam arab bisa dilibatkan dalam bahan makanan pokok seperti halnya telur pada umumnya.
"Seharusnya pemerintah juga memperhatikan kami sebagai peternak ayam arab, sebab selama ini belum pernah tersentuh. Tidak seperti peternak ayam biasanya, kami merasa dianaktirikan," tambah pria yang sudah 27 tahun beternak ayam arab. (mg2/c1/jaz)
Editor : Vidya Sajar Fitri