Nelayan di sekitar Pantai Popoh masih kudu sabar menanti realisasi pembangunan stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN). itu karena saat ini pihak investor masih perlu merampungkan berbagai tahap administrasi.
Sebetulnya, wanaca pengadaan SPBN di Pantai Popoh sudah digaungkan lebih dari setahun lalu. Tapi, ada berbagai tahapan teknis maupun administratif yang harus dilalui.
“Kemarin kita carikan info dari investornya. Karena banyak izin yang harus dilalui. Mulai dari izin pembangunan, izin penentuan tempat, penentuan kuota. Mungkin hari ini masih berproses,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Tulungagung, Ulul Azmi.
Baca Juga: Terminus di Jalur Kereta Api Malang - Dampit, Ternyata Begini Suasana Stasiun Dampit Tempo Dulu
Itu sebabnya, sampai saat ini dinas belum dapat memastikan waktu maupun target pembangunan SPBN. Tapi, dia memastikan bahwa proses pembangunan fisik tidak memakan waktu lama. Berbeda dengan proses pengajuan yang cukup menyita waktu.
“Kalau izin sudah keluar, pembangunan tiga bulan selesai,” akunya.
Untuk diketahui, penentuan kuota BBM bagi nelayan juga jadi barang penting dalam proses pengajuan. Sebab, hal ini berkaitan langsung dengan jumlah kebutuhan BBM harian oleh para nelayan.
Penentuan jumlah kebutuhan didasarkan pada jumlah jumlah kapan yang dimiliki oleh kelompok nelayan. Nah, baru setelahnya dilakukan penghitungan jumlah anggota dalam satu kelompok.
“Sudah pernah dihitungkan. Kalau menghitungnya dari kelompok. Tapi dari kelompoknya sudah muncul jumlah anggota. Jadi tetap dari satu kelompok di situ kan juga muncul jumlah kapal,” ujar Ulul.
Baca Juga: Minim Persyaratan, Berikut Lowongan Pekerjaan di Tulungagung Dengan Gaji UMR
Lalu, satu kapal nelayan rata-rata membutuhkan BBM jenis solar sekitar 400 liter untuk satu kali trip atau keberangkatan. Satu kelompok nelayan biasa melalui 3-7 hari trip untuk menangkap ikan di laut.
“Tergantung dari jumlah anggota kelompok. Satu kapan itu 400 liter satu kali trip. Tidak kapal besar, di bawah 30 GT (gross tonnage, Red),” bebernya.
Sayangnya, Ulul belum dapat merinci jumlah kebutuhan solar dalam upaya penentuan kuota oleh stakeholder berwenang. Meski begitu, dia memastikan bahwa selama ini para nelayan memenuhi kebutuhan BBM dengan cara berbelanja di SPBU terdekat.
“Tapi yang jadi masalah itu kan tempatnya kadang kan sak karepe dewe. Yang namanya Beli solar kan nggak boleh pakai (wadah berbahan, Red) plastik. Tapi lambat laun sudah mengerti alat-alat yang standarnya Pertamina,” tutupnya.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra