RADAR TULUNGAGUNG - Posisi Tulungagung yang berhadapan dengan laut terbuka yakni Samudera Hindia menyimpan potensi kebencanaan yang tidak bisa disepelekan.
Bahkan Tulungagung juga merupakan wilayah yang termasuk area rawan tsunami.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Mendera Seluruh Jawa Timur Hingga Akhir Februari, BMKG Juanda Bilang Begini
Apalagi ada empat kecamatan di Tulungagung yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.
Namun tahukah kamu jika pesisir selatan Tulungagung pernah terkena tsunami lebih dari tiga dekade silam?
Baca Juga: Warga Tulungagung Wajib Waspada, Puncak Musim Penghujan Diprediksi Terjadi di Akhir Bulan Ini
Dikutip dari Jurnal Sondir Prodi Teknik Sipil Institut Teknologi Nasional Malang, tercatat dalam sejarah, pesisir selatan Tulungagung pernah terdampak gelombang tsunami.
Hal ini dipicu gempa tektonik di selatan Banyuwangi pada 2 Juni 1994, yang pusatnya berada pada koordinat-10.48 LS dan 111.83 BT (usgs.gov).
Di beberapa wilayah dengan tinggi gelombang yang variatif, tercatat gelombang tertinggi mencapai 4.8 meter di Pantai Popoh (usgs.gov).
Tentunya hal ini menjadikan kewaspadaan untuk wilayah pesisir selatan di Jawa Timur, termasuk Tulungagung.
Baca Juga: Jauh dari Keramaian, Inilah 5 Pantai di Desa Ngrejo Tulungagung yang Siap Bikin Kamu Betah!
Epicenter (sumber gempa) dengan kekuatan 7.8 Mw tersebut berada di tenggara, selatan Pulau Jawa terjadi pada pukul 01:17 WIB.
Getaran yang dihasilkan gempa tersebut tidak begitu terasa oleh masyarakat di sekitar pesisir. Demikian juga dengan laporan adanya kerusakan infrastruktur akibat guncangan.
Namun sekitar 40-50 menit kemudian gelombang tsunami besar menerjang pantai di pesisir Banyuwangi dan Jember.
Berdasarkanpenelitian yang pernah dilakukan oleh Matsutomi dkk(1995), masa kisaran tsunami berlangsung sekitar 10-15 menit.
Baca Juga: Luasnya Dua Kali Kota Mojokerto, Desa di Tulungagung Selatan Ini Punya Pantai Cantik, Ada yang Tahu?
Dan gelombang tsunami menerjang pantai 3-4 kali dan gelombang kedua merupakan gelombang.
Gelombang tsunami pun mencapai pesisir selatan Tulungagung, meskipun kerusakan yang ditimbulkan tidak terlalu parah jika dibandingkan Banyuwangi dan Jember.
Alasannya jarak sumber gempa lebih dekat dengan kedua kabupaten tersebut.
Tentunya hal serupa bisa saja terjadi ke depan, namun harus dibarengi proses mitigasi.
Mengingat di pesisir selatan Tulungagung dipenuhi objek wisata berbasis pantai.
Bahkan saat ini kunjungan wisatawan semakin bertambah pasca dibukanya jalur lintas selatan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana