RADAR TULUNGAGUNG - Isu efisiensi anggaran pemerintah pusat sampai daerah bisa saja menjadi tantangan pembangunan yang dilaksanakan Gatut Sunu Wibowo dan Ahmad Baharudin.
Sehingga diperlukan strategi khusus untuk 5 tahun yang akan datang.
Termasuk cermat mencari tanbahan anggaran untuk daerah, serta menggandeng pihak swasta agar ikut memberikan kontribusinya.
Pengamat Politik Tulungagung, Andreas Djatmiko menjelaskan adanya Inpres nomor 1 tahun 2025 tentang efisiensi belanja dalam pelaksanaan APBN dan APBD tahun anggaran 2025 harus dicermati oleh bupati dan wakil bupati (Wabup) terlantik.
Karena aturan itulah yang menjadi tantangan keduanya.
“Itulah yang menjadi tantangan dari Pak Gatut Sunu Wibowo dan Pak Ahmad Baharudin itu,” kata Andreas.
Bupati dan wabup terlantik kudu cermat dalam memprioritaskan mana saja program yang segera direalisasi.
Supaya anggaran yang telah diefisiensi, menjadi tepat sasaran yakni ke masyarakat.
“Saya pikir itu nanti tidak hanya pemikiran dari Pak Gatut Sunu dan Pak Ahmad Baharudin. Tetapi tim percepatan yang dibentuk juga harus berfikir keras,” katanya.
Andreas melanjutkan akan sulit rasanya jika pembangunan daerah hanya mengandalkan dana transfer ataupun pendapatan asli daerah (PAD) semata.
Untuk memaksimalkan pembangunan, lanjut Andreas, keduanya harus pintar-pintar menggandeng pihak swasta.
“Potensi paling bagus di Tulungagung ya pariwisata. Itu yang harus dikembangkan dengan menggandeng pihak swasta,” katanya.
Pihak swasta bisa memberi kontribusinya dalam pembangunan daerah.
Sehingga daerah tidak melulu mengandalkan dana transfer dari pemerintah pusat.***
Editor : Mukhamad Zainul Fikri