RADAR TULUNGAGUNG — Populasi petani muda di Tulungagung masih tergolong rendah. Berdasarkan informasi dari Tim Kerja Penyuluh Kabupaten, hingga kini porsinya belum mencapai 10 persen dari total pelaku pertanian.
Kondisi ini menjadi tantangan serius dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di daerah.
Ketua Tim Kerja Penyuluh Tulungagung, Anang Ismindanto mengatakan, rendahnya minat generasi muda terhadap pertanian membuat proses regenerasi berjalan lambat.
Padahal, sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Tulungagung. Untuk mendorong lahirnya petani muda, pemerintah telah menjalankan program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) pada periode 2021–2025.
Program ini menyasar anak muda agar memiliki keterampilan, pengetahuan, serta keberanian memulai usaha di bidang pertanian.
“Melalui program YESS, anak muda dibekali pelatihan dan pendampingan usaha. Tujuannya agar mereka tertarik dan mampu mengembangkan usaha pertanian,” ujar Anang.
Selama lima tahun pelaksanaan, program YESS telah menjangkau 10.927 penerima manfaat di Kabupaten Tulungagung. Peserta mendapatkan pelatihan dasar, pelatihan lanjutan, hingga pendampingan pengembangan usaha pertanian.
Selain itu, peserta juga diberi kesempatan mengikuti hibah kompetitif untuk mendukung rencana usaha yang telah disusun. Skema ini mendorong peserta agar berani memulai usaha secara mandiri.
Anang menjelaskan, para alumni program YESS diharapkan tidak berhenti pada usaha pribadi. Mereka juga didorong untuk mengajak generasi muda lain agar mau terjun ke sektor pertanian.
“Alumni kami arahkan agar bisa menjadi penggerak dan memberi contoh bahwa pertanian juga punya peluang usaha,” katanya.
Meski demikian, Anang mengakui tantangan regenerasi petani masih besar. Secara umum, petani saat ini didominasi oleh usia lanjut, keterbatasan akses lahan, serta anggapan bahwa pertanian kurang menjanjikan secara ekonomi masih menjadi faktor yang membuat generasi muda enggan terjun ke sektor ini.
Selain itu, sebagian anak muda lebih memilih bekerja di sektor nonpertanian karena dinilai memberikan pendapatan yang lebih cepat dan pasti. Kondisi tersebut membuat regenerasi petani berjalan lebih lambat dibanding kebutuhan di lapangan.
Ke depan, Anang berharap ada program lanjutan yang mendukung regenerasi petani muda secara berkelanjutan agar sektor pertanian di Tulungagung tetap berjalan dan mampu menjawab kebutuhan pangan di masa mendatang.
"Kami berharap program seperti itu akan terus berlanjut," pungkasnya. (mg3/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri