Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jelang Kupatan, Pedagang Janur di Tulungagung Berburu Rezeki meski Harga Bahan Naik

Rahiiq Al Bachri • Jumat, 27 Maret 2026 | 11:20 WIB
Beberapa orang yang berjualan janur dan ketupat di depan Pasar Ngemplak.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)
Beberapa orang yang berjualan janur dan ketupat di depan Pasar Ngemplak.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Pedagang janur bakal kulit ketupat mulai membanjiri beberapa sudut perkotaan Tulungagung.
Mereka pun berburu rezeki meskipun bahan baku janur merangkak naik.

Perayaan Idul Fitri baru saja berlalu, namun geliat ekonomi di pasar tradisional Tulungagung kembali terlihat.

Fokus warga kini beralih pada persiapan tradisi Kupatan atau Lebaran Ketupat yang jatuh pada Sabtu (28/3) mendatang.

Baca Juga: Polres Tulungagung Ingatkan Warga Tak Terbangkan Balon Udara Liar Pasca-Lebaran, Pelanggar Siap Ditindak

Para pedagang musiman asal dalam dan luar Tulungagung mulai membanjiri sudut kota, menjajakan ketupat siap isi demi menyambut ritual tahunan tersebut.

Salah satu pedagang kawakan asal Durenan, Trenggalek, Sudin, mengungkapkan bahwa momen ini adalah waktu yang paling dinanti warga karena menjadi perayaan tahunan.

Hargarelatif stabil meski naik turunnya harga tetap terjadi tergantung kualitas janur.

"Paling rendah ya Rp 7 ribu kalau pas agak sepi, tapi rata-rata stabil di angka Rp 10 ribu per ikat isi sepuluh. Janurnya saja, kami kulakan dari daerah Prigi, harganya sekitar Rp 35 ribu per lonjor utuh," jelasnya sembari menganyam.

Baca Juga: WFH Jadi Kajian Serius di Pemkab Tulungagung, tapi Pelaksanaannya Masih Menunggu Surat Edaran Pemerintah

Antusiasme warga dalam menyambut tradisi ini memang tak main-main.

Rekan sesama pedagang, Sulis, menceritakan bahwa tradisi ini berawal dari kebiasaan para sesepuh yang menjalankan puasa sunnah Syawal selama enam hari penuh.

"Di rumah-rumah itu paling minimal sedia 50 sampai 150 kupat. Satu rumah bisa potong empat ekor ayam lebih untuk pelengkap sayurnya," tambah Sulis yang sudah mulai berjualan sejak pagi buta.

Meningkatnya permintaan janur ini juga dirasakan oleh para pembeli yang mulai berburu bahan sejak jauh hari demi menghindari lonjakan harga di hari H.

Baca Juga: Tak Ada Penambahan Bus, Terminal Gayatri Tulungagung Layani 9 Ribu Penumpang saat Arus Balik Lebaran 2026

Topik, salah satu warga yang sedang memilah ketupat di pasar, mengaku lebih memilih membeli ketupat siap pakai daripada membuat sendiri karena alasan kepraktisan.

"Ini beli beberapa ikat untuk persiapan di rumah. Kalau beli jadi begini lebih praktis, apalagi besok Sabtu rencana mau ke Durenan juga buat silaturahmi ke tempat saudara, pasti ramai luar biasa di sana," ungkap Topik.(*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#tradisi ketupat #pedagang #pasar tradisional #lebaran ketupat #kupatan