RADAR TULUNGAGUNG - Langit Desa Notorejo, Kecamatan Gondang, Tulungagung, kembali penuh warna-warni indah pada Minggu (29/3) pagi. Anak muda di desa setempat kembali menaikkan balon warna-warni.
Meskipun bukan bertajuk festival, nyatanya mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat dan berjalan lancar tanpa gangguan berarti.
Festival ini sekaligus menjadi contoh keberhasilan pengendalian tradisi penerbangan balon udara liar yang selama ini kerap merugikan warga.
Pemerintah desa bersama kelompok remaja masjid dan musala setempat telah melakukan koordinasi intensif guna memastikan seluruh rangkaian acara berlangsung aman.
Baca Juga: 22 Balon Udara Liar Diamankan saat Kupatan, Polisi Tegaskan Risiko Gangguan Listrik hingga Kebakaran
Kepala Desa Notorejo, Mustakim, mengungkapkan bahwa upaya sosialisasi yang dilakukan secara rutin bersama aparat keamanan membuahkan hasil signifikan.
“Kalau penerbangan balon liar di Desa Notorejo sudah tidak ada, tidak ada sama sekali, setelah pemerintah desa bersama bhabinkamtibmas dan babinsa rutin sosialisasi,” ujarnya.
Menurut Mustakim, festival serupa sebelumnya juga pernah digelar dan sukses pada pertengahan 2025 dengan dukungan aparat kepolisian. Keberlanjutan kegiatan ini diharapkan mampu menjadi solusi dalam menjaga tradisi sekaligus meminimalisasi risiko.
Dia menegaskan, festival balon udara tidak hanya sebagai ajang pelestarian budaya, tetapi juga langkah preventif untuk menekan potensi kerugian masyarakat.
“Harapan kami untuk mengurangi kerugian masyarakat akibat penerbangan balon udara liar, jangan sampai menimpa masyarakat. Festival ini juga bertujuan mencegah dampak kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.
Balon-balon yang diterbangkan merupakan hasil kreasi warga setempat dengan berbagai motif menarik. Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan kegiatan tersebut memiliki nilai penting, baik dari sisi budaya maupun sosial.
Sementara itu, salah satu peserta dari Kelompok Remaja Masjid Al-Barokah, Danang Jauharul Afif, menilai festival ini menjadi wadah positif bagi generasi muda untuk menyalurkan kreativitas.
Dia menjelaskan, proses pembuatan balon udara berukuran besar membutuhkan waktu sekitar empat hari dengan tingkat ketelitian tinggi.
“Pengguntingannya harus presisi. Kalau tidak, bisa sobek,” ujarnya.
Danang juga mengingatkan bahaya balon udara liar yang dapat mengancam keselamatan warga.
“Saya kurang setuju kalau balon udara liar karena bisa mengganggu. Kalau jatuh di kabel listrik atau rumah itu berbahaya. Dulu pernah ada yang jatuh di kebun tebu dan terbakar,” imbuhnya. (mg3/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri