Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tak Penuhi Prinsip Five Freedoms, Aktivis Lingkungan Hidup Tulungagung Kritik Kondisi Satwa di Pendapa

Rahiiq Al Bachri • Selasa, 31 Maret 2026 | 09:33 WIB
Aktivis lingkungan hidup Tulungagung menilai ada beberapa hal yang harus dibenahi dalam merawat hewan koleksi pendapa.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)
Aktivis lingkungan hidup Tulungagung menilai ada beberapa hal yang harus dibenahi dalam merawat hewan koleksi pendapa.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG – Sorotan terhadap nasib hewan koleksi kebun binatang mini di Pendapa Kongas Arum Kusumaning Bangsa Tulungagung kian tajam.

Lembaga PPLH Mangkubumi menilai kondisi satwa di lokasi tersebut belum memenuhi standar kesejahteraan hewan (animal welfare), bahkan mengindikasikan adanya kegagalan dalam pemenuhan prinsip dasar perlindungan satwa.

Deputi Advokasi dan Kebijakan PPLH Mangkubumi, Maliki Nusantara menyebut, hasil pemantauan lapangan menunjukkan banyak indikator krusial yang terabaikan. Penilaian itu mengacu pada konsep Five Freedoms atau lima kebebasan satwa.

Baca Juga: WFH Jadi Kajian Serius di Pemkab Tulungagung, tapi Pelaksanaannya Masih Menunggu Surat Edaran Pemerintah

“Secara umum belum memenuhi standar. Mulai dari kecukupan pakan, kondisi kesehatan, hingga lingkungan kandang masih bermasalah,” tegasnya.

Salah satu temuan paling mencolok adalah kondisi fisik satwa, khususnya rusa Jawa, yang tampak kurus dan tidak terawat. Indikasi tersebut mengarah pada ketidaksesuaian antara kebutuhan nutrisi dengan pakan yang diberikan.

“Kalau indikator bebas lapar dan haus saja tidak terpenuhi, ini persoalan mendasar. Anggaran sebenarnya ada, tapi implementasinya patut dipertanyakan. Perlu audit serius,” ujarnya tajam.

Tak hanya soal pakan, aspek kesehatan satwa juga dinilai memprihatinkan. Kondisi tubuh yang tidak ideal membuka dugaan adanya gangguan kesehatan yang tidak tertangani secara optimal.

Baca Juga: Halalbihalal Pemkab Tulungagung Usai Lebaran, Bupati Gatut Sunu Tekankan Kekompakan ASN dan Percepatan Pembangunan

"Indikator bebas dari rasa sakit dan penyakit juga belum terpenuhi. Menghadirkan dokter hewan memang langkah awal, tapi tanpa pembenahan sistem, itu hanya tambal sulam,” kritiknya.

Dari sisi fasilitas, kondisi kandang disebut jauh dari layak. Kebersihan yang buruk dan minimnya perawatan dinilai memperparah situasi.

“Kandang kotor jelas melanggar prinsip bebas dari rasa tidak nyaman. Ini bukan sekadar estetika, tapi menyangkut kualitas hidup satwa,” lanjutnya.

Persoalan lain yang tak kalah serius adalah keterbatasan lahan. Ruang gerak satwa yang sempit membuat perilaku alaminya tidak bisa diekspresikan secara normal.

Baca Juga: PKS Wisata Kedaluwarsa, Pemkab Tulungagung Turunkan Target PAD Pariwisata 2026

“Satwa butuh ruang. Kalau sempit, stres meningkat. Apalagi, koleksi satwa yang ada sebagian sudah tua. Fungsi edukasi jadi tidak relevan,” imbuhnya.

PPLH menegaskan, persoalan ini bukan sekadar teknis, melainkan sistemik. Karena itu, solusi parsial dinilai tidak akan efektif.

“Harus ada evaluasi total. Audit anggaran, pembenahan manajemen, hingga penataan ulang fasilitas. Kalau tidak, ini akan terus berulang,” tegas Maliki.

Saat ini, kebun binatang mini pendapa disebut tengah dalam masa transisi perbaikan. Pemerintah daerah juga telah membentuk tim khusus untuk melakukan penanganan.(mg3/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#animal welfare #pendapa kongas arum kusumaning bangsa #rusak #PPLH Mangkubumi