RADAR TULUNGAGUNG – Relawan delapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Tulungagung harus nganggur.
Alasannya, mereka terkena sanksi penghentian sementara operasional (suspend) dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Kebijakan itu diambil menyusul adanya dugaan kasus keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) serta temuan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP).
Koordinator BGN Wilayah Tulungagung, Sebrina Mahardika mengungkapkan, saat ini terdapat 116 dapur SPPG yang beroperasi di wilayahnya.
Namun, delapan di antaranya dikenai sanksi suspend oleh BGN pusat.
“Sejauh ini ada delapan dapur SPPG yang dikenakan suspend atau dihentikan operasionalnya sementara waktu,” ujarnya, Minggu (29/3).
Menurut dia, penghentian operasional tersebut dilatarbelakangi beragam persoalan.
Mulai dari tidak adanya pengawas gizi, fasilitas yang belum memadai, hingga kasus menonjol berupa dugaan keracunan MBG.
Sebrina merinci, dari delapan dapur tersebut, 1 SPPG tidak memiliki pengawas gizi, 3 lainnya terkendala fasilitas, sementara 4 dapur diduga berkaitan dengan kasus keracunan yang sempat terjadi di sejumlah sekolah beberapa waktu lalu.
Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dari empat dapur yang diduga menjadi penyebab keracunan itu, lanjut dia, sudah dikantongi dan diserahkan ke BGN pusat.
Namun, dia belum dapat membeberkan hasilnya ke publik.
“Untuk hasil uji laboratorium sampel makanannya, kami belum bisa jelaskan secara langsung. Tetapi sudah kami laporkan ke BGN pusat,” katanya.
Saat ini, empat dapur yang diduga terkait kasus keracunan tersebut diminta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penerapan SOP.
Selain itu, pengelola juga wajib memperbaiki sarana dan prasarana sesuai rekomendasi Dinas Kesehatan Tulungagung.
Tak hanya itu, BGN juga menyoroti keluhan masyarakat terkait distribusi MBG selama Ramadan 2026 yang dinilai belum optimal.
Kondisi tersebut dipastikan menjadi bahan evaluasi untuk peningkatan layanan ke depan. Sebrina menegaskan, fokus BGN pada tahun ini mulai bergeser.
Jika pada 2025 lebih menitikberatkan pada perluasan jumlah dapur SPPG, maka pada 2026 perhatian diarahkan pada peningkatan kualitas.
“Ke depan kami fokus pada kualitas menu, sarana prasarana, serta kualitas SDM di SPPG,” pungkasnya. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri