RADAR TULUNGAGUNG - Kerupuk rambak menjadi salah satu penganan khas yang ada di Tulungagung.
Bahkan di Tulungagung, banyak orang di wilayah kota yang menjadi perajin dan pedagangnya.
Mereka pun mendapat kenaikan omzet selama Ramadan hingga Lebaran.
Aroma gurih kerupuk rambak seolah menjadi penanda khas suasana Lebaran di Tulungagung.
Di balik kerenyahannya, tersimpan kisah berkah musiman yang selalu dinanti para pelaku usaha.
Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum emas saat permintaan melonjak tajam dan omzet ikut terdongkrak signifikan.
Di lapak sederhana milik Cila, geliat itu terlihat nyata. Jika hari biasa penjualan berjalan stabil, maka grafiknya langsung menanjak memasuki Ramadan.
Pembeli datang silih berganti, dari warga lokal hingga perantau yang pulang kampung dan ingin membawa buah tangan khas.
Baca Juga: Kasus Suspek Campak di Tulungagung Capai 44, Dinkes Gencarkan Imunisasi Kejar untuk Cegah Penyebaran
“Kalau sudah Ramadan sampai Lebaran, peningkatannya terasa sekali. Bisa dua kali lipat dari hari biasa,” ujarnya.
Rambak bukan sekadar camilan. Di Tulungagung, makanan berbahan kulit sapi dan kerbau ini telah menjadi bagian dari tradisi silaturahmi.
Disajikan dalam toples saat tamu datang, rambak kerap menjadi teman setia obrolan hangat dari rumah ke rumah.
Cila menjaga kualitas sebagai kunci utama. Dia mendatangkan bahan baku kulit kerbau dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal memiliki tekstur lebih tebal dan menghasilkan kerenyahan khas.
Proses pengolahan yang tidak instan, mulai dari pembersihan, perebusan, penjemuran, hingga penggorengan menjadi penentu cita rasa yang konsisten.
"Untuk pengolahan memang tidak bisa sembarangan,” katanya.
Hasilnya sepadan. Dalam satu bulan selama Ramadan, laba yang diraih bisa menembus sekitar Rp 10 juta.
Jika dirata-rata, keuntungan harian mencapai Rp 500 ribu. Angka yang cukup jauh di atas pendapatan hari biasa.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Rambak kerbau dijual Rp 85 ribu per setengah kilogram, sementara rambak sapi Rp 65 ribu. Untuk ukuran lebih kecil, seperempat kilogram dibanderol mulai Rp 32.500 hingga Rp 40 ribu.
"Bahkan, pembelian per ons tetap dilayani, menyesuaikan kebutuhan masyarakat," ungkapnya.
Fenomena serupa juga dirasakan pedagang lain, seperti Rukmi. Dia masih mengandalkan penjualan langsung di toko pinggir jalan.
Meski tanpa pemasaran digital, ramainya pembeli saat Ramadan menjadi bukti kuat bahwa rambak masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
“Masih jualan di sini saja, langsung ke pembeli. Tapi alhamdulillah, kalau Ramadan ramai terus,” katanya.
Dari sisi konsumen, pilihan terhadap rambak bukan tanpa alasan. Rasa gurih, tekstur renyah, dan kualitas yang terjaga membuat camilan ini sulit tergantikan.
Terlebih saat Lebaran, ketika suguhan di meja tamu menjadi simbol penghormatan bagi setiap tamu yang datang. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri