Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Berkah Ramadan dan Lebaran, Omzet Kerupuk Rambak Khas Tulungagung Naik Dua Kali Lipat, Laris Diburu Pemudik

Rahiiq Al Bachri • Rabu, 1 April 2026 | 10:09 WIB
Kerupuk rambak menjadi salah satu camilan yang paling dicari masyarakat Tulungagung saat Lebaran.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)
Kerupuk rambak menjadi salah satu camilan yang paling dicari masyarakat Tulungagung saat Lebaran.(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Kerupuk rambak menjadi salah satu penganan khas yang ada di Tulungagung.

Bahkan di Tulungagung, banyak orang di wilayah kota yang menjadi perajin dan pedagangnya.

Mereka pun mendapat kenaikan omzet selama Ramadan hingga Lebaran.

Aroma gurih kerupuk rambak seolah menjadi penanda khas suasana Lebaran di Tulungagung.

Baca Juga: Harga Sembako dan Bumbu Dapur di Pasar Ngemplak Tulungagung Naik Usai Lebaran, Pedagang Keluhkan Lonjakan dari Pengepul

Di balik kerenyahannya, tersimpan kisah berkah musiman yang selalu dinanti para pelaku usaha.

Ramadan hingga Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum emas saat permintaan melonjak tajam dan omzet ikut terdongkrak signifikan.

Di lapak sederhana milik Cila, geliat itu terlihat nyata. Jika hari biasa penjualan berjalan stabil, maka grafiknya langsung menanjak memasuki Ramadan.

Pembeli datang silih berganti, dari warga lokal hingga perantau yang pulang kampung dan ingin membawa buah tangan khas. 

Baca Juga: Kasus Suspek Campak di Tulungagung Capai 44, Dinkes Gencarkan Imunisasi Kejar untuk Cegah Penyebaran

“Kalau sudah Ramadan sampai Lebaran, peningkatannya terasa sekali. Bisa dua kali lipat dari hari biasa,” ujarnya.

Rambak bukan sekadar camilan. Di Tulungagung, makanan berbahan kulit sapi dan kerbau ini telah menjadi bagian dari tradisi silaturahmi.

Disajikan dalam toples saat tamu datang, rambak kerap menjadi teman setia obrolan hangat dari rumah ke rumah.

Cila menjaga kualitas sebagai kunci utama. Dia mendatangkan bahan baku kulit kerbau dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dikenal memiliki tekstur lebih tebal dan menghasilkan kerenyahan khas.

Baca Juga: Antrean Panjang di SPBU Plosokandang Tulungagung Dipicu Isu Kenaikan Harga BBM, Warga Panik Takut Stok Habis

Proses pengolahan yang tidak instan, mulai dari pembersihan, perebusan, penjemuran, hingga penggorengan menjadi penentu cita rasa yang konsisten.

"Untuk pengolahan memang tidak bisa sembarangan,” katanya.

Hasilnya sepadan. Dalam satu bulan selama Ramadan, laba yang diraih bisa menembus sekitar Rp 10 juta.

Jika dirata-rata, keuntungan harian mencapai Rp 500 ribu. Angka yang cukup jauh di atas pendapatan hari biasa.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Rambak kerbau dijual Rp 85 ribu per setengah kilogram, sementara rambak sapi Rp 65 ribu. Untuk ukuran lebih kecil, seperempat kilogram dibanderol mulai Rp 32.500 hingga Rp 40 ribu.

Baca Juga: Rusa Pendapa Kurus Kering, Bupati Tulungagung Turun Tangan Bentuk Tim Perawatan Satwa dan Perbaikan Kebun Binatang Mini

"Bahkan, pembelian per ons tetap dilayani, menyesuaikan kebutuhan masyarakat," ungkapnya.

Fenomena serupa juga dirasakan pedagang lain, seperti Rukmi. Dia masih mengandalkan penjualan langsung di toko pinggir jalan.

Meski tanpa pemasaran digital, ramainya pembeli saat Ramadan menjadi bukti kuat bahwa rambak masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. 

“Masih jualan di sini saja, langsung ke pembeli. Tapi alhamdulillah, kalau Ramadan ramai terus,” katanya.

Dari sisi konsumen, pilihan terhadap rambak bukan tanpa alasan. Rasa gurih, tekstur renyah, dan kualitas yang terjaga membuat camilan ini sulit tergantikan.

Terlebih saat Lebaran, ketika suguhan di meja tamu menjadi simbol penghormatan bagi setiap tamu yang datang. (*/c1/rka) 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#pemudik #camilan #ramadan #kerupuk rambak #lebaran