RADAR TULUNGAGUNG - Tradisi Lebaran Ketupat atau Kupatan serentak digelar di berbagai pelosok desa di Tulungagung pada Sabtu (28/3/2026) lalu.
Sejak fajar menyingsing, kepulan asap dari dapur warga serta aroma kuah lodeh khas menjadi penanda dimulainya perayaan yang selalu dinanti usai puasa sunnah Syawal.
Suasana hangat tampak jelas di wilayah Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.
Warga mulai saling berkunjung sejak pagi hari, membuka pintu rumah lebar-lebar, dan menyajikan hidangan ketupat lengkap dengan opor maupun sayur lodeh bagi siapa saja yang datang.
Nafi’, salah satu warga, mengaku kemeriahan kupatan tahun ini terasa lebih guyub.
“Sejak pagi sudah ramai sekali. Semua pintu rumah terbuka, siapa pun dipersilakan mampir untuk makan kupat bersama. Ini bukan sekadar tradisi makan, tapi kebersamaannya terasa sekali,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Balyan, warga lainnya. Menurut dia, kupatan menjadi simbol kerukunan yang nyata di tengah masyarakat.
Tidak ada sekat sosial, semua membaur dalam suasana kekeluargaan.
“Dari pagi sudah keliling, hampir setiap rumah menyediakan kupat sayur lengkap dengan opor. Senang melihat warga bisa berkumpul tanpa membeda-bedakan. Ini budaya yang harus terus dijaga,” ungkapnya.
Tradisi kupatan sendiri erat kaitannya dengan selesainya puasa sunnah Syawal selama enam hari.
Ketupat dimaknai sebagai simbol “ngaku lepat” atau saling mengakui kesalahan, sekaligus penyempurnaan ibadah setelah Hari Raya Idul Fitri. (mg3/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri