RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah masa panen raya yang berlangsung di wilayah Tulungagung, isu ketersediaan pupuk menjelang musim tanam mendatang mulai menjadi sorotan.
Meski stok dinilai lebih stabil, potensi kenaikan harga masih menjadi momok bagi petani di lapangan.
Syakur, Salah satu petani di wilayah Rejotangan, Tulungagung, mengungkapkan bahwa saat ini kondisi di kios-kios memang belum tersedia pupuk baru karena memang belum memasuki musim tanam.
Kendala keterlambatan yang biasanya terjadi seringkali berakar pada distributor hingga pemerintah pusat.
Baca Juga: Jembatan Gantung Kendalbulur Tulungagung Jadi Akses Vital Warga, Perawatan Berkala Wajib Dilakukan
"Sebenarnya di era Bapak Prabowo ini stok pupuk terasa lebih banyak dan carinya lebih mudah dibanding tahun-tahun lalu. Namun, tantangan utama petani tetap pada masalah keuangan saat musim tanam tiba," ujar Syakur.
Dia menambahkan, sebagai solusi mahalnya pupuk nonsubsidi, petani di Rejotangan mulai menunjukkan kemajuan berpikir dengan beralih ke pupuk organik.
Penggunaan kotoran kambing dan sapi kini menjadi alternatif utama untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang harganya melambung.
"Petani sekarang sudah pintar. Daripada dipaksa beli nonsubsidi yang mahal, mereka bikin organik sendiri dari kotoran ternak. Ini sangat membantu menjaga kualitas tanaman tanpa harus menguras kantong," imbuhnya.
Di sisi lain, masalah distribusi menjadi perhatian serius.
Selain itu, salah satu petani lokal, Haryo, menyoroti adanya praktik mark-up harga di tingkat pengecer.
Pupuk subsidi yang seharusnya dibanderol sekitar Rp 175 ribu per sak seringkali membengkak menjadi Rp 200 ribu hingga Rp 225 ribu setelah melewati beberapa tangan atau agen.
"Distribusinya sering tidak tepat sasaran karena adanya rantai reseller. Dari tangan pertama sudah subsidi, tapi sampai di petani gunung harganya bisa naik Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu per sak. Ini yang dirasa berat oleh petani jagung dan padi di sini," ungkap Haryo.
Baca Juga: Tebing Longsor, Akses Jalan Menuju Candi Penampihan Tulungagung Terputus
Harapan besar kini digantungkan pada kebijakan pemerintah pusat, terutama terkait wacana pemutusan rantai agen agar subsidi bisa langsung menyentuh tangan pertama (petani).
Warga berharap rencana tersebut bukan sekadar "angan-angan utopis", melainkan langkah nyata agar bahan pokok pertanian tersedia di setiap sentra tanpa permainan harga.
"Kami berharap kebijakan Presiden Prabowo melalui program distribusi langsung benar-benar nyata. Biar subsidi tepat sasaran, harganya turun, dan petani tidak lagi mengeluh setiap mau tanam," pungkas Syakur. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri