Menurut Romo Thomas, kebangkitan adalah puncak iman yang membuktikan bahwa penderitaan dan maut bukanlah akhir dari segalanya.
Namun, dia memberikan catatan filosofis bahwa penderitaan manusia modern seringkali bukan karena salib kebenaran, melainkan karena ketidakmampuan mengendalikan keinginan diri.
"Kita sering menderita karena terjebak dalam keinginan yang tak terbatas. Kemajuan teknologi dan banjir iklan telah mengubah 'keinginan' seolah-olah menjadi 'kebutuhan'. Kebangkitan Kristus mengajarkan kita untuk menang atas ego dan keinginan semu tersebut," ujar Romo Thomas.
Bagi dia, esensi dari kebangkitan adalah transformasi menuju kedewasaan paroki. Terwujud dalam sikap peduli antarsesama tanpa mengecualikan.
Hal ini selaras dengan pengorbanan Kristus yang menebus kesalahan sesama.
"Orang dewasa itu mau terlibat dan menolong. Jika kita meyakini adanya kehidupan kekal yang damai di surga, maka persiapannya harus dimulai dari sekarang dengan menciptakan kedamaian di dunia. Rumah yang penuh kedamaian adalah surga kecil, sementara permusuhan hanya akan menciptakan 'neraka' di dunia," tegas Romo yang juga mendalami kajian filsafat ini.
Simbol telur Paskah yang identik dengan perayaan hari Minggu pun dimaknai secara mendalam sebagai cikal bakal kehidupan.
Romo Thomas menggambarkan kebangkitan seperti telur yang pecah untuk memunculkan kehidupan baru.
Pesan ini menjadi pengingat bagi masyarakat Tulungagung bahwa setiap pribadi memiliki kesempatan untuk bangkit dari keterpurukan dan kesalahan masa lalu.
"Mumpung masih di dunia, hiduplah berdamai dengan sesama dan saling mengampuni. Itulah wujud nyata dari merayakan kebangkitan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari," pungkas Romo. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri