TULUNGAGUNG - Sejarah kepemimpinan di tanah marmer selalu menjadi topik yang menarik untuk diulas, terutama bagi masyarakat yang ingin memahami akar budaya dan politik lokal. Mengetahui profil Bupati Tulungagung dari masa ke masa bukan sekadar menghafal nama, melainkan melihat bagaimana wilayah ini bertransformasi dari sebuah daerah rawa yang terisolasi menjadi kabupaten yang maju di pesisir selatan Jawa Timur. Sejarah panjang ini mencakup perpindahan pusat kekuasaan hingga perubahan nama wilayah yang sangat monumental.
Dalam catatan sejarah, kepemimpinan di wilayah ini terbagi menjadi empat era besar. Estafet kepemimpinan Bupati Tulungagung dari masa ke masa mencerminkan dinamika zaman, mulai dari era feodalisme kadipaten di bawah pengaruh kerajaan mataram, masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga era demokrasi pasca-kemerdekaan. Nama-nama besar seperti Kyai Ngabehi Mangundirono hingga H. Gatut Sunu Wibowo menjadi bagian dari saksi hidup perubahan besar di daerah ini.
Memahami kronologi Bupati Tulungagung dari masa ke masa juga membantu kita mengenali identitas asli wilayah yang dulunya dikenal dengan nama Kadipaten Ngrowo. Perubahan nama dari Ngrowo menjadi Tulungagung bukanlah sekadar administratif, melainkan sebuah simbol harapan akan kemakmuran bagi masyarakatnya. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai perjalanan kepemimpinan di Kabupaten Tulungagung.
Baca Juga: Polytron Fox 350 dengan Skema Sewa Baterai Seumur Hidup, Solusi Hemat atau Jebakan Manis?
Awal Mula Kadipaten Ngrowo di Kalangbret
Jauh sebelum gedung otonom berdiri megah di pusat kota, pusat pemerintahan tidak berada di lokasi saat ini. Pada masa awal, wilayah ini bernama Kadipaten Ngrowo dengan pusat pemerintahan di Kalangbret. Sosok yang tercatat sebagai perintis atau Bupati Pertama adalah Kyai Ngabehi Mangundirono. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Tondowidjojo dan R.M. Mangun Negoro. Pada era ini, wilayah Ngrowo masih didominasi oleh lahan basah dan rawa-rawa, sesuai dengan namanya "Ngrowo" yang berarti wilayah berawa.
Perpindahan ke Pusat Kota dan Lahirnya Nama Tulungagung
Memasuki abad ke-19, pusat pemerintahan dipindahkan ke lokasi yang sekarang menjadi jantung Kota Tulungagung. Meskipun pusatnya berpindah, nama "Ngrowo" tetap melekat hingga akhir abad ke-19. Daftar bupati pada periode ini dimulai dari RMT Pringgodiningrat (1824–1830) hingga RT Partowidjojo (1896–1901).
Momen paling bersejarah terjadi pada masa kepemimpinan RT Partowidjojo. Di bawah komando beliau, nama Ngrowo resmi diganti menjadi Tulungagung. Secara etimologi, Tulungagung berasal dari kata "Tulung" yang berarti sumber air atau pertolongan, dan "Agung" yang berarti besar. Pergantian nama ini menandai babak baru wilayah ini menuju kemandirian ekonomi dan sosial.
Masa Transisi Abad ke-20 hingga Kemerdekaan
Memasuki awal abad ke-20, Tulungagung berada di bawah kendali tokoh-tokoh kuat seperti RT Cokroadinegoro dan RPA Sosrodiningrat yang menjabat cukup lama, yakni 36 tahun (1907–1943). Masa ini adalah periode sulit di mana birokrasi lokal harus berhadapan dengan kebijakan kolonial Belanda yang ketat. Transisi kekuasaan kemudian bergeser ke tangan R. Djanoeismadi (1943–1945) saat Jepang mulai masuk ke Indonesia, sesaat sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan.
Baca Juga: OTT KPK Bupati Tulungagung: Diboyong ke Jakarta, Pemeriksaan Intensif Dimulai di Gedung Merah Putih
Era Kemerdekaan dan Modernisasi Tulungagung
Setelah Indonesia merdeka, R. Moedajat mencatatkan namanya sebagai bupati pertama di era Republik (1945–1947). Kepemimpinan terus bergulir melalui berbagai latar belakang, mulai dari sipil hingga militer, seperti Letkol (U) Soenardi dan Letkol (Inf) Martawisoeroso di era Orde Baru.
Di era reformasi, kita mengenal sosok Ir. Heru Tjahjono yang menjabat selama dua periode (2003–2013) dan membawa banyak perubahan fisik pada wajah kota. Estafet kemudian dilanjutkan oleh Syahri Mulyo, Drs. Maryoto Birowo, hingga masa transisi di bawah Penjabat (Pj) Bupati Dr. Heru Suseno. Kini, Kabupaten Tulungagung memasuki babak baru di bawah kepemimpinan H. Gatut Sunu Wibowo, S.E., M.E., yang diharapkan mampu membawa Tulungagung menuju kejayaan yang lebih besar di masa depan.
Editor : Davina Ar Raafika