RADAR TULUNGAGUNG – Angka kejadian kebakaran di Tulungagung menunjukkan tren penurunan yang sangat signifikan.
Hingga pekan pertama April 2026, jumlah kasus tercatat hanya 24 kejadian.
Capaian ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sempat menembus angka ratusan kasus.
Penurunan ini menjadi kabar baik di tengah tingginya potensi kebakaran yang biasanya terjadi setiap tahun.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Pertolongan (DPKP) Tulungagung menilai, hasil tersebut tidak lepas dari masifnya sosialisasi dan edukasi yang dilakukan kepada masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.
Kasi Operasi dan Pemadaman Damkar Tulungagung, Bambang Pidekso, menyebut perubahan pola pikir masyarakat mulai terlihat.
Kesadaran untuk mencegah kebakaran dinilai meningkat, sehingga berdampak langsung pada menurunnya angka kejadian.
“Alhamdulillah ada penurunan yang sangat jauh. Tahun lalu pada periode yang sama bisa mencapai ratusan kasus, sekarang baru 24 kejadian. Kami sangat berharap tren penurunan ini terus berlanjut,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya mengingatkan masyarakat agar tidak lengah.
Pasalnya, Tulungagung dalam waktu dekat akan memasuki musim kemarau yang identik dengan meningkatnya risiko kebakaran, terutama di area lahan kering.
Baca Juga: Mediasi Buntu, Ibu di Tulungagung Laporkan Nenek yang Diduga Kuasai Anaknya
Potensi bahaya juga meningkat di sejumlah wilayah yang terdapat limbah tebu atau sepah tebu.
Material kering tersebut sangat mudah terbakar, apalagi saat kondisi cuaca panas disertai angin kencang.
Bambang menegaskan, mayoritas kasus kebakaran yang terjadi tahun ini masih didominasi faktor kelalaian manusia.
Mulai dari aktivitas membakar sampah yang ditinggal begitu saja hingga kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan di area rawan terbakar.
“Upaya edukasi terus kami lakukan, baik ke sekolah-sekolah maupun kelompok masyarakat. Kami tekankan bahwa kebakaran ini tidak bisa ditebak. Siapa pun bisa jadi korban,” tegasnya.
Ia menambahkan, langkah paling efektif dalam menekan angka kebakaran adalah meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
Masyarakat diminta tidak meremehkan sumber api sekecil apa pun, terutama saat kondisi cuaca mulai kering.
“Intinya jangan anggap sepele api kecil. Saat musim kemarau dan angin kencang, itu bisa dengan cepat membesar,” pungkasnya. (bac/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri