RADAR TULUNGAGUNG – Ancaman kekeringan harus mulai diantisipasi sejak dini.
BPBD Tulungagung mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih lama dari biasanya.
Berdasarkan prakiraan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, sekitar 75,5 persen wilayah di Jawa Timur, termasuk Tulungagung, akan mengalami curah hujan kategori “Bawah Normal”.
Kondisi ini mengindikasikan potensi kekeringan yang lebih parah dibanding tahun sebelumnya.
Kalaksa BPBD Tulungagung, Sudarmaji, menegaskan bahwa mitigasi harus segera dilakukan.
Apalagi, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
“Sebagian besar wilayah masuk kategori ‘Bawah Normal’. Artinya, musim kemarau tahun ini akan jauh lebih kering. Masyarakat harus mulai bijak dalam menggunakan cadangan air bersih,” ujarnya.
Tak hanya soal intensitas hujan yang rendah, durasi kemarau tahun ini juga diprediksi lebih panjang.
Data menunjukkan 46,2 persen wilayah mengalami kemunduran awal musim kemarau yang berdampak pada mundurnya pola hujan dan memperpanjang periode kering.
“Kita harus waspada penuh, terutama saat Agustus nanti yang diperkirakan menjadi puncak terkering. Kami terus memetakan wilayah rawan untuk mengantisipasi krisis air bersih,” imbuhnya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD mengimbau masyarakat melakukan manajemen air secara mandiri.
Warga diminta memanfaatkan sisa curah hujan di akhir musim penghujan untuk mengisi cadangan air.
“Mumpung masih ada hujan, segera isi waduk, embung, atau tandon air di rumah. Ini sangat penting sebagai cadangan saat puncak kekeringan nanti,” tegas Sudarmaji.
Selain krisis air, kemarau panjang juga meningkatkan risiko bencana lain, seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi cuaca yang kering membuat api mudah menyebar.
BPBD pun mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun lahan secara sembarangan.
“Kemarau panjang ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tapi juga meningkatkan potensi kebakaran. Kami minta warga lebih waspada dan tidak memicu api di area terbuka,” pungkasnya. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri