RADAR TULUNGAGUNG – Lapas Kelas IIB Tulungagung menepis isu pembatasan ketat kunjungan.
Pihak lapas di Jalan Pahlawan ini memastikan tidak ada aturan baru yang membatasi kunjungan hanya untuk keluarga inti dalam satu kartu keluarga (KK), justru pendekatan humanis terus diperkuat.
Kasi Pembinaan Narapidana dan Kegiatan Kerja Rizal Arbi Fanani menegaskan, kebijakan kunjungan masih mengacu pada program sebelumnya.
Artinya, selain keluarga inti, rekan maupun kerabat di luar hubungan darah tetap diperbolehkan membesuk warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Menurut dia, kebijakan tersebut menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas psikologis penghuni lapas yang saat ini berjumlah 607 orang.
Dengan adanya ruang interaksi yang lebih luas, tingkat stres warga binaan diharapkan dapat ditekan.
“Salah satu cara untuk mengurangi stres adalah memberikan kesempatan lebih bagi warga binaan untuk bertemu keluarga maupun orang terdekatnya,” ujarnya.
Pendekatan humanis juga diwujudkan melalui pola kunjungan tatap muka tanpa sekat pembatas.
Jika sebelumnya interaksi terhalang jeruji atau tralis, kini kunjungan dipusatkan di Aula Al-Fath yang lebih terbuka dan nyaman.
Baca Juga: DPRD Sampaikan Rekomendasi LKPJ 2025, Pemkab Tulungagung Tegaskan Komitmen Perbaikan Kinerja
Rizal menyebut, kebijakan tersebut mendapat respons positif dari warga binaan. Mereka bisa berinteraksi lebih leluasa, mulai dari bersalaman hingga berbincang secara langsung tanpa hambatan fisik.
“Dengan tatap muka langsung, keluh kesah bisa tersampaikan dengan lebih baik,” imbuhnya.
Meski memberikan kelonggaran dari sisi kemanusiaan, pengawasan tetap dilakukan secara ketat.
Setiap pengunjung dan barang bawaan wajib melewati dua lapis pemeriksaan guna mencegah masuknya barang terlarang ke dalam lapas.
Baca Juga: Tagih Janji Perusahaan Terapkan UMK 2026, Disnakertrans Awasi Kenaikan Upah di Tulungagung
Pemeriksaan dilakukan secara detail, baik terhadap barang maupun badan pengunjung. Bahkan, sebelum memasuki blok hunian, penggeledahan ulang kembali dilakukan untuk memastikan keamanan tetap terjaga.
“Kami pastikan semua melalui pemeriksaan ketat agar kondisi lapas tetap aman dan kondusif,” tegasnya.
Kebijakan yang mengedepankan sisi humanis ini dinilai berdampak positif terhadap keamanan internal. Dukungan sosial dari keluarga dan orang terdekat mampu menjaga kondisi psikologis warga binaan sehingga potensi konflik dapat diminimalisasi.
“Psikis ini sangat penting. Kalau terjaga, keamanan di dalam juga akan tetap kondusif,” pungkasnya. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri