RADAR TULUNGAGUNG - UPT Popoh tak bisa berbuat banyak melihat kerusakan sarpras yang terjadi di salah satu kawasan yang pernah menjadi ikon wisata Tulungagung ini.
Alasannya pun klasik, yakni nihilnya dana untuk perbaikan sarpras yang rusak.
Alhasil hanya bisa mematung dan menanti uluran tangan dari pemkab.
Kepala UPT Popoh, Eko Suwito mengatakan, sepinya Pantai Popoh secara umum memang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan JLS yang membuat banyak pantai baru bermunculan.
Baca Juga: Pantai Popoh Tulungagung Sepi Pol: Pendapa Trocoh, Wahana Rusak, Dampak Pandemi Covid-19 Belum Pulih
Calon wisatawan lebih memilih untuk mendatangi kawasan wisata yang lebih segar dan sedap dipandang mata.
"Sudah menjadi rahasia umum jika Pantai Popoh sepi pasca keberadaan JLS," terangnya.
Eko -sapaan akrabnya- menambahkan, kondisi yang lumayan masih terlihat saat akhir pekan tiba.
Paling tidak pihaknya bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 1,5 juta, sedangkan pada hari aktif hanya segelintir orang yang datang menikmati panorama.
"Padahal, kami tetap dibebani target PAD Rp 150 juta per tahun. Sehingga cukup riskan untuk mengejar target itu," tambahnya.
Pria asal Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, ini mengakui nihilnya anggaran membuatnya tidak bisa berbuat banyak untuk melakukan perbaikan.
Padahal, banyak sarpras yang membutuhkan perbaikan sesegera mungkin. Seperti pendapa, wahana permainan anak, dan atap kantor.
Belum lagi akses jembatan menuju kawasan Pantai Sidem yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi dan pengecatan ulang.
"Itu yang kami prioritaskan jika dana tersedia. Apalagi yang tersedia sekarang hanya dana kebersihan," ungkapnya.
Namun, semua masih sekadar harapan. Dia berharap pemkab terketuk hatinya untuk menyelamatkan kawasan wisata legendaris ini sehingga tetap eksis di tengah persaingan sengit dengan objek wisata lain.
"Semoga ke depannya bisa terwujud agar kawasan ini bisa kembali ramai seperti sediakala," tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri