RADAR TULUNGAGUNG – Pergerakan harga kebutuhan pokok di Tulungagung sepanjang April 2026 menunjukkan pola yang dinamis.
Jika sebelumnya tekanan inflasi banyak dipicu sektor pangan, kini justru bergeser ke sektor transportasi dan energi di tengah upaya menjaga stabilitas ekonomi daerah.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Tulungagung, Dyah Sari Prihantari, mengungkapkan bahwa kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) justru memberikan kabar baik bagi masyarakat.
Pasalnya, kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,88 persen yang turut mendorong daya beli.
“Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada komponen bergejolak adalah daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, dan cabai merah,” jelasnya, Rabu (6/5).
Dia menambahkan, turunnya harga sejumlah komoditas tersebut dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan di pasar lokal.
Kondisi ini membuat tekanan harga pangan relatif terkendali, bahkan cenderung menurun dibandingkan bulan sebelumnya.
Namun demikian, tren positif dari sektor pangan belum sepenuhnya mampu menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Baca Juga: Perajin Marmer Tulungagung Berinovasi di Tengah Kenaikan Harga, Sisa Batu Disulap Jadi Produk Seni
Hal ini disebabkan adanya kenaikan pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) yang mencatat inflasi sebesar 0,69 persen.
Kenaikan tersebut dipicu oleh penyesuaian tarif pada sektor transportasi dan energi. Beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi di antaranya tarif angkutan udara, bensin, bahan bakar rumah tangga, serta sigaret kretek mesin (SKM).
“Untuk komponen harga diatur pemerintah, andil inflasi sebesar 0,13 persen didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara, bensin, bahan bakar rumah tangga, serta SKM,” imbuhnya.
Selain itu, kelompok inflasi inti juga mengalami kenaikan meski relatif tipis yakni sebesar 0,23 persen.
Menariknya, faktor pendorong inflasi pada komponen ini tidak hanya berasal dari sektor makanan olahan, tetapi juga dari perkembangan teknologi.
Baca Juga: Pengusaha Soroti Nasib Pantai Popoh Tulungagung, Dinilai Kini Lebih Cocok Jadi Kawasan Perikanan
Dyah menyebutkan, sejumlah komoditas seperti minyak goreng dan nasi dengan lauk masih menjadi penyumbang inflasi.
Di sisi lain, perangkat teknologi seperti telepon seluler hingga laptop atau notebook juga turut memberikan andil.
“Selain minyak goreng dan nasi dengan lauk, komoditas seperti telepon seluler dan laptop atau notebook juga menyumbang inflasi pada komponen inti,” ungkapnya.
Untuk memantau perkembangan harga secara lebih komprehensif, BPS Tulungagung menggunakan metode waterfall dengan titik awal perbandingan sejak Januari 2025.
Metode ini dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih utuh terkait stabilitas harga dari waktu ke waktu.
Dengan dinamika yang terjadi, BPS berharap data tersebut dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan yang tepat, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara harga pangan dan sektor energi.
“Harapannya, pemerintah daerah dapat mengambil langkah yang tepat agar stabilitas harga tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak terganggu,” tandas Dyah. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri