RADAR TULUNGAGUNG - Tren kasus demam berdarah dengue (DBD) di Tulungagung selama caturwulan pertama 2026 menunjukkan kecenderungan menurun.
Meski sempat tinggi pada awal tahun akibat pengaruh musim penghujan dan perubahan cuaca ekstrem, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung memastikan kondisi saat ini masih relatif terkendali dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Dinkes Tulungagung, kasus infeksi virus dengue (IVD) pada Januari 2026 tercatat mencapai 60 kasus. Jumlah tersebut terdiri dari 10 kasus DBD, 5 kasus dengue shock syndrome (DSS), dan 45 kasus dengue dengue (DD).
Angka itu menjadi yang tertinggi selama awal tahun dan sempat memicu kewaspadaan di sejumlah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.
Kepala Dinkes Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani mengatakan, memasuki Februari, jumlah kasus mulai mengalami penurunan cukup signifikan.
Baca Juga: ORI Campak di Ringinpitu Tulungagung Tembus 68,4 Persen, Dinkes Kejar Sisanya lewat Imunisasi Rutin
Total tercatat sebanyak 31 kasus yang terdiri dari 8 kasus DBD dan 23 kasus DD. Sementara kasus DSS sudah tidak ditemukan lagi pada bulan tersebut.
“Pada Februari, tren mulai turun. Kasus DSS juga sudah nihil sehingga kondisi lebih terkendali dibanding Januari,” ujarnya.
Namun demikian, pada Maret, angka kasus kembali mengalami kenaikan menjadi 45 kasus. Meski naik, kasus berat masih relatif rendah.
Dinkes mencatat terdapat 9 kasus DBD dan 36 kasus DD, sedangkan kasus DSS tetap nihil.
Menurut Desi, kenaikan pada Maret dipengaruhi kondisi cuaca yang tidak stabil. Intensitas hujan yang masih cukup tinggi disertai suhu lembap dinilai menjadi faktor berkembangnya nyamuk Aedes aegypti di lingkungan permukiman warga.
Baca Juga: Kasus Suspek Campak Tinggi, Dinkes Lakukan ORI di Ringinpitu Tulungagung
“Cuaca yang berubah-ubah memang menjadi salah satu faktor utama meningkatnya populasi nyamuk pembawa virus dengue. Karena itu masyarakat tetap harus waspada,” katanya.
Memasuki April, tren penurunan kembali terlihat. Jumlah kasus turun menjadi 28 kasus, terdiri dari 4 kasus DBD dan 24 kasus DD.
Penurunan itu dinilai sebagai hasil dari upaya pencegahan yang terus digencarkan oleh dinkes bersama puskesmas, pemerintah desa, serta kader kesehatan di tingkat lingkungan.
Desi menjelaskan bahwa selama beberapa bulan terakhir rutin melakukan edukasi kepada masyarakat terkait pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Selain itu, gerakan 3M Plus juga terus disosialisasikan agar masyarakat lebih disiplin menjaga kebersihan lingkungan rumah.
Baca Juga: Kasus Suspek Campak di Tulungagung Capai 44, Dinkes Gencarkan Imunisasi Kejar untuk Cegah Penyebaran
“PSN masih menjadi langkah paling efektif untuk menekan penyebaran DBD. Kami terus mengingatkan masyarakat agar menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” jelasnya.
Tidak hanya itu, pemantauan jentik berkala juga diperkuat melalui kader jumantik di desa maupun kelurahan. Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi lebih dini potensi penyebaran nyamuk demam berdarah sebelum memicu lonjakan kasus.
Dinkes juga meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam tinggi mendadak, nyeri otot, mual, hingga muncul bintik merah pada kulit.
Sebab, keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi hingga DSS yang berbahaya bagi keselamatan pasien. “Kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri sangat penting. Jangan menunggu kondisi parah karena DBD bisa berkembang cepat,” ungkapnya.
Meski tren kasus menunjukkan penurunan, dinkes menegaskan status kewaspadaan tetap diberlakukan. Terlebih memasuki masa pancaroba yang rawan memicu peningkatan populasi nyamuk akibat genangan air di lingkungan permukiman.
“Kami mengimbau masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan PSN agar kasus tidak kembali meningkat,” tandas Desi. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri