RADAR TULUNGAGUNG – Kenaikan harga sejumlah bahan pokok (bapok) di Pasar Ngemplak Tulungagung mulai dirasakan para pedagang dalam sepekan terakhir.
Lonjakan harga pada berbagai komoditas pangan membuat modal kulakan pedagang membengkak dibanding awal pekan lalu.
Berdasarkan perbandingan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) per Senin (11/5) dengan kondisi riil di lapangan per Minggu (17/5), hampir seluruh komoditas mengalami kenaikan harga, terutama bawang merah, daging, hingga telur ayam ras.
Tri, pedagang bumbu dapur di Pasar Ngemplak, mengatakan bahwa kenaikan paling terasa terjadi pada komoditas bawang merah.
Harga jual bawang merah eceran kini mencapai Rp 50 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 39 ribu per kilogram.
Sementara itu, bawang putih dijual Rp 38 ribu per kilogram, cabai rawit merah Rp 24 ribu per kilogram, dan beras premium eceran naik tipis menjadi Rp 15.500 per kilogram dari sebelumnya Rp 15 ribu per kilogram.
Meski begitu, harga beras dan cabai merah besar masih dinilai relatif stabil.
“Kenaikan harga pasar ini memang tidak bisa dihindari. Modal kulakan kami terus membengkak dibanding seminggu yang lalu, terutama untuk bawang merah. Kami harus mengeluarkan uang ekstra untuk menyetok barang yang sama, sementara perputaran uang di tingkat eceran cenderung melambat,” keluh Tri.
Kondisi serupa juga dirasakan Supri, pedagang grosir bumbu dapur di pasar yang sama.
Untuk menjaga arus kas usaha tetap aman, Supri menjual bawang merah di angka Rp 48 ribu per kilogram.
Menurutnya, kenaikan harga terjadi hampir merata dalam beberapa hari terakhir akibat distribusi pasokan dari daerah penghasil yang mulai tersendat.
Jika kondisi ini berlangsung lama, pedagang khawatir omzet penjualan ikut terdampak.
“Kondisi harga pasar memang naik serentak di mana-mana dalam seminggu ini. Naik turunnya harga ini sangat terasa sejak pasokan dari daerah penghasil mulai agak tersendat. Dan kalau dibiarkan, situasi modal yang tinggi seperti ini bisa bikin omzet penjualan kami makin menurun,” jelas Supri.
Lonjakan harga juga terjadi pada komoditas daging. Teguh, pedagang daging sapi, menyebut harga daging sapi kualitas paha belakang kini mencapai Rp 127 ribu per kilogram.
Naik dari pekan lalu yang berada di kisaran Rp 124.500 per kilogram.
“Jelas harga pasar naik, dan situasi ini membuat biaya operasional kami ikut terkerek, karena harga dari tingkat jagal atau RPH juga sudah tinggi,” paparnya.
Sementara itu, harga daging ayam ras di lapak milik Siti kini berada di angka Rp 38 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 35.500 per kilogram.
Baca Juga: Sarpras Hutan Kota Tulungagung Rusak, Area Bermain Anak dan Jogging Track Akan Diperbaiki Bertahap
Menurutnya, kenaikan harga dari tingkat pengepul membuat margin keuntungan pedagang semakin tipis.
Di sektor sembako, Munawaroh, pedagang sembako eceran, mengungkapkan bahwa harga minyak goreng kemasan kini menyentuh Rp 22 ribu per liter dari sebelumnya Rp 21.500 per liter.
Gula pasir kristal putih naik menjadi Rp 18 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 17.500, sedangkan telur ayam ras meningkat menjadi Rp 28 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 26.500 per kilogram.
Meski demikian, dia menilai harga minyak goreng dan gula pasir masih dalam kategori aman.
Kenaikan paling terasa justru terjadi pada telur ayam ras yang mulai memengaruhi besarnya modal harian pedagang.
“Hampir tidak ada barang yang bertahan di harga lama. Semuanya kompak naik dibanding awal pekan lalu. Tapi untuk harga minyak dan gula pasir masih di harga aman. Hanya saja, modal berputar kami untuk kulakan sembako jadi makin berat,” pungkas Munawaroh. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri