Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jelang Idul Adha, Harga Sapi Biasa di Tulungagung Stagnan, Sapi Limosin dan Simmental Justru Melonjak Tajam

Rahiiq Al Bachri • Kamis, 21 Mei 2026 | 12:15 WIB
Salah satu pedagang sapi di Pasar Hewan Terpadu di Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, menunggu ternak dagangannya, kemarin (20/5/2026).(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)
Salah satu pedagang sapi di Pasar Hewan Terpadu di Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, menunggu ternak dagangannya, kemarin (20/5/2026).(RAHIIQ AL BACHRI/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG — Menjelang Hari Raya Idul Adha, harga sapi hidup kelas biasa tak kunjung bergerak naik. Sebaliknya, sapi premium jenis Limosin dan Simmental malah terus meroket dan menjadi rebutan pasar kelas atas.

Hal ini terlihat di pasar hewan terpadu (PHT) di Desa Sumberdadi, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, kemarin (20/5).

Keluhan itu dirasakan langsung Andi, salah seorang penjual sapi yang rutin membawa ternaknya menggunakan armada truk ke pasar hewan Sumbergempol.

Menurutnya, kondisi saat ini membuat peternak kecil serba terjepit. Harga daging sapi di tingkat konsumen relatif stabil, tetapi harga sapi hidup di tingkat bawah tidak ikut terdongkrak. 

“Kalau daging sapi ini ya alhamdulillah lah bisa dirasakan stabil. Tapi kalau harga sapi hidup ini harganya nggak naik. Hari ini (kemarin) harga sapi, aduh, menangis ini,” keluhnya dengan nada pasrah.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat margin keuntungan peternak semakin tipis.

Baca Juga: Rendang Daging Sapi Khas Sumatra Barat, Hidangan Legendaris dengan Cita Rasa Gurih Pedas Rempah Kuat

Apalagi menjelang Idul Adha biasanya peternak berharap ada kenaikan harga sebagai momentum memperbaiki ekonomi keluarga. Namun, tahun ini harapan itu tidak dirasakan merata.

Di sisi lain, pasar justru menunjukkan gairah berbeda pada segmen sapi premium. Jenis-jenis sapi berpostur besar dan berbobot tinggi tetap menjadi primadona dengan harga yang terus melonjak dari bulan ke bulan.

Kondisi ini memperlihatkan adanya jurang pasar yang semakin lebar antara peternak kelas bawah dengan pemain ternak kelas elite.

Pasar hewan Tulungagung sendiri dikenal sebagai salah satu titik perdagangan ternak paling komplet di wilayah selatan Jawa Timur. Beragam jenis sapi berputar di sana, mulai dari Brangus, peranakan Ongole (PO), Brahman, hingga Belgian Blue.

Namun, dari sekian banyak jenis, Simmental dan Limosin tetap menjadi penguasa pasar untuk kategori premium.

Baca Juga: Sejarah Suku Madura dari Zaman Proto Melayu hingga Era Modern: Asal Usul, Perlawanan, dan Tradisi Karapan Sapi yang Mendunia

Slamet, peternak sekaligus pedagang asal Kecamatan Kauman, mengakui bahwa sapi kelas “big boss” memiliki pasar tersendiri yang cenderung kebal terhadap lesunya daya beli masyarakat umum.

“Beda jauh sama bulan lalu. Kalau yang jenis ini harganya naik. Naik terus ini,” ujarnya.

Menurut Slamet, sapi Limosin berbobot standar sekitar 350 hingga 450 kilogram kini sudah berada di kisaran Rp 25 juta sampai Rp 35 juta per ekor.

Ukuran jumbo dengan bobot di atas 500 hingga 600 kilogram dapat menyentuh harga Rp 45 juta sampai Rp 65 juta. 

“Limosin itu pokoknya kalau gemuk ya mahal,” tambahnya.

Kenaikan harga serupa juga terjadi pada jenis Simmental. Untuk kategori pedhet atau anakan, harga di pasaran kini berkisar Rp 10 juta hingga Rp 14 juta. Sapi dewasa siap potong stabil di angka Rp 25 juta sampai Rp 40 juta per ekor.

Baca Juga: Meski PMK Merebak di Tulungagung, Sapi Perah di Sendang dan Pagerwojo Dilaporkan Aman, LSD Jadi Ancaman Utama

Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola pasar menjelang Idul Adha. Permintaan terhadap sapi premium dari kalangan tertentu masih tinggi, sementara pasar sapi biasa justru melambat akibat tekanan ekonomi masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

Akibatnya, peternak kecil menjadi pihak paling rentan menghadapi situasi tersebut.

Selain persoalan harga, para pedagang juga dihantui faktor cuaca dan kesehatan ternak. Hujan deras yang sewaktu-waktu mengguyur area pasar dapat memengaruhi aktivitas jual beli maupun kondisi fisik hewan.

Karena itu, para peternak mengaku lebih ketat menjaga kesehatan ternak sebelum dibawa ke pasar.

Andi memastikan sapi-sapi yang dibawa dari daerah asal telah mendapatkan perlakuan kesehatan dan vaksinasi secara mandiri demi menjaga kepercayaan pembeli.

“Meskipun dari kampung, sapi-sapi ini semuanya aman,” pungkasnya. (bac/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Pasar Hewan Terpadu #idul adha #peternak #sapi