RADAR TULUNGAGUNG – Ancaman kekeringan harus diantisipasi sejak dini menjelang musim kemarau 2026.
Diperkirakan, sebanyak 8.810 jiwa atau sekitar 3.740 kepala keluarga (KK) di 9 kecamatan berpotensi terdampak krisis air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung, Sudarmaji mengatakan, wilayah yang masuk kategori rawan kekeringan dipetakan mulai tingkat ringan (K1) hingga sedang (K2).
Pemetaan untuk memudahkan penanganan apabila musim kemarau berlangsung panjang.
“Potensi kekeringan sudah kami petakan sejak awal. Jadi ketika kebutuhan air bersih meningkat, distribusi bisa langsung dilakukan,” ujarnya, Kamis (21/5).
Dari data terbaru, wilayah berpotensi terdampak tersebar di Kecamatan Kalidawir, Besuki, Pucanglaban, Campurdarat, Rejotangan, Tanggunggunung, Bandung, Pagerwojo, dan Gondang.
Kecamatan Tanggunggunung menjadi wilayah dengan sebaran terbanyak. Sedikitnya terdapat 3 desa dan 8 dusun yang dipetakan rawan kekeringan.
Kondisi geografis yang didominasi kawasan perbukitan dan minim sumber air membuat wilayah tersebut hampir setiap tahun mengalami krisis air bersih saat musim kemarau.
Selain Tanggunggunung, Kecamatan Kalidawir dan Pagerwojo juga menjadi daerah dengan potensi cukup tinggi, meliputi masing-masing 3 desa dan 4 dusun. Serta Kecamatan Besuki yang mencakup 3 desa dan 3 dusun.
Menghadapi ancaman kekeringan tersebut, BPBD mulai menyiapkan sarana distribusi air bersih.
Sebanyak 50 tandon air telah disiapkan untuk mendukung penyaluran bantuan ke wilayah terdampak.
Menurut Sudarmaji, tandon tersebut nantinya ditempatkan di titik-titik rawan kekeringan ketika permintaan bantuan mulai meningkat.
Dengan cara itu, distribusi air bersih bisa dilakukan lebih cepat dan efisien.
“Kalau ada desa yang mengajukan bantuan air bersih, tandon langsung kami kirim lalu diisi air. Jadi, masyarakat tidak perlu menunggu terlalu lama,” katanya.
Selain tandon, BPBD juga menyiapkan dua armada tangki air untuk mendukung suplai air bersih selama musim kemarau.
Distribusi dilakukan secara bertahap menyesuaikan tingkat kebutuhan di masing-masing wilayah terdampak.
Tak hanya fokus pada ancaman kekeringan, BPBD juga memetakan potensi bencana lain yang berpotensi terjadi selama cuaca ekstrem.
Wilayah pegunungan seperti Pagerwojo, Sendang, Kalidawir, Pucanglaban, hingga Tanggunggunung dipetakan rawan longsor, terutama saat terjadi hujan intensitas tinggi.
Sementara itu, wilayah yang kerap mengalami banjir berada di Kecamatan Rejotangan, Kalidawir, Campurdarat, dan Bandung.
BPBD mengimbau masyarakat di daerah rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca selama masa peralihan musim.
“Kami berharap masyarakat tetap waspada, terutama di wilayah rawan longsor, banjir, maupun kekeringan. Karena cuaca sekarang cenderung sulit diprediksi,” pungkasnya.(sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri