TULUNGAGUNG - Reco Pentung Tulungagung pernah menjadi salah satu pabrik rokok terbesar dan paling terkenal di Jawa Timur. Berdiri sejak 1946, perusahaan rokok milik almarhum Haji Sumiran itu sempat menjadi ikon kebanggaan masyarakat Tulungagung sebelum akhirnya bangkrut dan meninggalkan sejumlah bangunan bersejarah yang kini berubah fungsi.
Nama Reco Pentung masih sangat dikenal warga Tulungagung, terutama generasi lama yang tumbuh di era kejayaan industri rokok lokal. Bahkan jingle legendaris Reco Pentung masih diingat banyak orang hingga sekarang.
Bekas pabrik rokok tersebut kini sebagian telah berubah menjadi pusat perbelanjaan modern seperti Bravo Swalayan, namun jejak sejarahnya tetap melekat kuat di masyarakat.
Baca Juga: Misteri Makam Pendiri Rokok Rejo Pentung di Tulungagung, Dijaga Ribuan Arca dan Kental Aura Kejawen
Reco Pentung Jadi Ikon Industri Rokok Tulungagung
Reco Pentung merupakan perusahaan rokok asli Tulungagung yang didirikan sekitar tahun 1946 oleh Haji Sumiran. Pada masanya, perusahaan ini berkembang pesat dan menjadi salah satu penggerak ekonomi terbesar di daerah tersebut.
Produk-produk Reco Pentung cukup dikenal luas di Jawa Timur. Beberapa merek yang pernah diproduksi antara lain Reco Pentung, Minak Djinggo, Wasiat, Freedom, hingga Pentung Jaya.
Selain produknya, Reco Pentung juga terkenal karena memiliki jingle khas berbahasa Jawa yang mudah diingat masyarakat.
Baca Juga: Padepokan Reco Sewu Tulungagung Viral, Makam Bos Rokok Reco Pentung Berdiri Megah Dekat Pantai Popoh
“Rokok Reco Pentung weton pabrik Tulungagung, tuku rokok ojo bingung,” begitu potongan jingle yang dulu sangat populer.
Pada era kejayaannya sekitar tahun 1970 hingga 1990-an, perusahaan tersebut mempekerjakan banyak warga Tulungagung dan menjadi simbol keberhasilan industri lokal.
Lokasi pabrik utamanya berada di Jalan Supriyadi, Tulungagung, yang dulu dikenal sebagai kawasan industri rokok terbesar di kota tersebut.
Bekas Pabrik Reco Pentung Kini Jadi Bravo Swalayan
Seiring waktu berjalan, Reco Pentung mengalami kemunduran hingga akhirnya bangkrut. Persaingan industri rokok nasional dan perubahan regulasi disebut menjadi salah satu penyebab meredupnya perusahaan tersebut.
Kini sebagian besar bangunan bekas pabrik sudah berubah fungsi. Salah satu area utamanya menjadi Bravo Swalayan, pusat perbelanjaan modern terbesar di Tulungagung.
Selain itu, beberapa bekas gudang dan bangunan produksi lain kini digunakan untuk toko kosmetik, pusat kebugaran, hingga tempat usaha baru.
Baca Juga: Kenaikan Gaji Pensiunan 2026 dan Isu Rapelan Menguat, Ini Penjelasan Resmi Taspen dan Pemerintah
Meski berubah fungsi, sebagian warga masih mengenali kawasan tersebut sebagai bekas pabrik Reco Pentung.
“Dulu ini bekas pabrik atau gudangnya Reco Pentung,” ujar narator dalam video dokumentasi sejarah perusahaan tersebut.
Transformasi bangunan lama menjadi pusat perdagangan modern membuat banyak generasi muda tidak lagi mengetahui sejarah panjang industri rokok legendaris itu.
Baca Juga: Taspen Klarifikasi Isu Bantuan Pensiunan Rp130 Juta, Begini Fakta Resminya
Warisan Reco Pentung Masih Diingat Warga Tulungagung
Meski perusahaan sudah lama tutup, nama Reco Pentung tetap dianggap bagian penting dari sejarah Tulungagung. Banyak warga yang keluarganya pernah bekerja di pabrik tersebut atau terlibat dalam industri tembakau lokal.
Selain dikenal sebagai perusahaan besar, Reco Pentung juga memiliki pengaruh sosial dan ekonomi cukup kuat pada zamannya.
Dalam beberapa tahun terakhir, nama Reco Pentung kembali ramai diperbincangkan setelah muncul di berbagai konten YouTube sejarah, urban explore, hingga penelusuran horor.
Baca Juga: Taspen Klarifikasi Isu Bantuan Pensiunan Rp130 Juta, Begini Fakta Resminya
Bekas pabrik dan peninggalannya kini sering menjadi lokasi dokumentasi karena memiliki nuansa klasik khas industri lama yang masih tersisa.
Masyarakat pun berharap suatu saat nanti Tulungagung kembali memiliki perusahaan besar lokal yang mampu mengangkat nama daerah di tingkat nasional seperti yang pernah dilakukan Reco Pentung pada masa kejayaannya.
Editor : Dyah Wulandari