RADAR TULUNGAGUNG – Rencana pengalihan arus kendaraan berat dampak penggantian Jembatan Gondang 1 Tulungagung memunculkan kekhawatiran baru di kalangan warga.
Bukan hanya soal kemacetan, masyarakat mulai cemas jalan-jalan desa bakal menjadi korban karena dipakai sebagai jalur alternatif kendaraan bertonase besar.
Warga Kecamatan Gondang menilai skema pengalihan resmi kendaraan berat akan membuat sopir angkutan memilih jalan pintas melalui jalur desa demi memangkas waktu tempuh dan biaya operasional.
Kondisi itu dikhawatirkan memicu kerusakan jalan di wilayah pedesaan yang sejak awal tidak dirancang menampung kendaraan berat.
Safi’i, warga Gondang, mengatakan vahwa rute resmi kendaraan besar dipastikan jauh lebih panjang karena harus memutar melalui Durenan, Bandung, Campurdarat, hingga Tamanan.
Menurut dia, situasi tersebut berpotensi membuat sopir truk memilih menerobos jalan desa maupun jalan penghubung antarkecamatan. “Potensi menerobos jalan desa tetap ada,” katanya, Jumat (22/5).
Menurut dia, kalau untuk truk besar jalurnya nanti pasti akan lebih jauh karena harus lewat Durenan, Bandung, Campurdarat, baru Tamanan. Tapi kalau jalan desa atau gang kecamatan digunakan angkutan besar, barang maupun orang, itu tidak bisa.
“Bisa merusak jalan karena konstruksi aspal hotmix-nya bukan digunakan untuk kendaraan besar,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa juga muncul dari warga Desa Balerejo, Kecamatan Kauman. Khrisna menilai dampak pengalihan arus tidak hanya dirasakan wilayah Gondang, tetapi dapat meluas hingga kawasan penyangga lain seperti Pakel, Campurdarat, Boyolangu, hingga Kauman.
Menurut dia, mayoritas jalan desa di wilayah tersebut belum memiliki kekuatan fondasi struktural untuk menahan beban kendaraan bertonase besar dengan intensitas tinggi.
Jika pengawasan di lapangan lemah, kerusakan jalan diprediksi akan terjadi dalam waktu singkat.
“Jalan desa yang nantinya dilalui mayoritas belum dirancang untuk menampung intensitas kendaraan berat dan volume lalu lintas tinggi. Pemerintah daerah dan dishub perlu memastikan ada pengawasan kendaraan bertonase besar, pengaturan jam operasional, serta langkah antisipasi kerusakan jalan dan keselamatan warga agar masyarakat desa tidak menjadi pihak yang paling terdampak,” tegasnya.
Di sisi lain, rencana pembongkaran total Jembatan Gondang 1 membuat warga cukup kaget. Mereka menilai kondisi fisik jembatan sebenarnya masih sangat kokoh dan layak pakai.
Keputusan merombak total struktur beton Fiber Reinforced Polymer (FRP) pada lantai jembatan dianggap terlalu berlebihan jika dibandingkan dengan kerusakan riil di lapangan yang tergolong ringan.
"Kalau berbicara infrastruktur sebenarnya tidak ada yang terlampau parah," ujar Reinaldy, warga Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Tulungagung.
Sementara itu Kabid Binamarga Dinas PUPR Tulungagung Benny Ariessandy belum memberikan respons saat dikonfirmasi koran ini melalui pesan singkat dan telepon.(bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri