RADAR TULUNGAGUNG - Hari Raya Idul Adha tahun ini memberi kenyataan pahit bagi beberapa peternak kambing.
Alasannya, harga kambing yang cenderung turun dan minimnya serapan pabrik membuat mereka harus memutar otak untuk bertahan.
Deretan kandang kambing dan domba di unit usaha BUMDes Bale Arta Lestari Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung, masih tampak sibuk menjelang musim kurban beberapa hari yang lalu.
Namun di balik rutinitas memberi pakan dan merawat ternak setiap hari, tersimpan kegelisahan para peternak desa menghadapi harga jual yang terus melemah.
Baca Juga: PG Modjopanggoong Tulungagung Tebar Kepedulian di Idul Adha 1447 H, Sembelih 4 Sapi dan 1 Kambing
Bukan karena stok melimpah, melainkan karena pasar kambing dinilai semakin sulit berkembang.
Berbeda dengan sapi yang memiliki jalur distribusi lebih luas hingga menembus industri pengolahan makanan skala besar, kambing dan domba justru masih bergantung pada pasar tradisional dan momentum kurban tahunan.
“Kambing agak sulit, kurang menjual dibanding sapi,” ujar Krisna, salah satu pengurus BUMDes Bale Arta Lestari.
Sebagai pengelola unit breeding kambing dan domba desa, Krisna merasakan langsung bagaimana lambatnya perputaran pasar memengaruhi usaha peternakan rakyat.
Baca Juga: FIFGROUP Tulungagung Rayakan Idul Adha dengan Salurkan Hewan Kurban untuk Masyarakat
Menurutnya, keterbatasan akses ke sektor industri membuat peternak hanya bergantung pada jagal lokal, pedagang pasar hewan, hingga pembeli musiman saat Idul Adha.
Akibatnya, daya tawar peternak ikut melemah. Harga kambing Jawa yang sebelumnya cukup stabil kini justru mengalami penurunan, sementara harga sapi terus merangkak naik.
“Harga kambing turun, sedangkan sapi bisa naik sampai jutaan rupiah,” katanya.
Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh BUMDes menjadi jauh lebih tipis.
Baca Juga: Idul Adha 2026, BRI Branch Office Blitar Salurkan 23 Hewan Kurban untuk Masyarakat dan Kaum Dhuafa
Bahkan, kambing ukuran besar yang biasanya menjadi incaran saat kurban kini tidak lagi mudah terjual di harga tinggi.
Di kandang milik desa itu, kambing jawa dengan ukuran tubuh panjang mencapai 95 sentimeter hanya mampu ditawarkan di kisaran Rp 4 juta.
Namun, harga tersebut dinilai terlalu berat bagi pembeli pasar lokal.
“Yang lebih laku justru harga Rp 3,5 juta,” imbuh Krisna.
Meski demikian, para pengelola BUMDes tidak memilih menyerah. Mereka tetap berusaha menjaga perputaran usaha dengan mengandalkan pasar yang masih tersedia.
Selain usaha peternakan kambing dan domba, BUMDes juga mengembangkan budidaya ikan patin sebagai penopang ekonomi desa.
Menjelang Idul Adha tahun ini, unit usaha tersebut setidaknya masih mampu menjual enam ekor ternak kurban, terdiri atas 3 kambing jawa dan 3 domba gibas.
“Alhamdulillah tetap ada yang terjual meskipun tidak banyak,” ujarnya.
Bagi para peternak desa, usaha ternak bukan sekadar soal jual beli hewan. Ada harapan agar usaha kecil di tingkat desa tetap bertahan di tengah perubahan pasar yang semakin kompetitif.
Meski jalur industri besar belum terbuka lebar, mereka tetap menjaga kandang, merawat ternak, dan menunggu pasar kembali berpihak. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri