Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nilai Luhur Pancasila Harus Dijiwai Generasi Muda Tulungagung di Tengah Tantangan Era Digital

Rahiiq Al Bachri • Selasa, 2 Juni 2026 | 11:55 WIB
(AI/HENDRA/RADAR TULUNGAGUNG)
(AI/HENDRA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Perkembangan teknologi digital membawa banyak kemudahan bagi kehidupan masyarakat.

Namun di balik manfaat tersebut muncul tantangan baru yang harus dihadapi, terutama terkait perubahan karakter generasi muda. Karena itu, menanamkan nilai luhur Pancasila harus menjadi perhatian banyak pihak.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Tulungagung. Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga nilai-nilai kebersamaan dan semangat gotong royong yang menjadi bagian dari jati diri bangsa.

Salah satunya melalui penguatan kegiatan olahraga dan organisasi kepemudaan.

Kepala Dispora Tulungagung Achmad Mugiyono mengatakan, derasnya arus informasi digital menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembentukan karakter generasi muda.

Baca Juga: Hari Lahir Pancasila 2026, Bakesbangpol Tulungagung Ingatkan Pentingnya Menjaga Keutuhan Bangsa dan Perdamaian Dunia

Apalagi, mereka sangat mudah terpapar berbagai informasi yang beredar di media sosial, baik yang berdampak positif maupun negatif.

“Anak muda sekarang hidup di tengah arus informasi yang begitu cepat. Kalau tidak dibekali pemahaman yang kuat, nilai-nilai seperti gotong royong, toleransi, dan etika bisa terkikis oleh budaya individualisme,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Mamad itu menilai momentum Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.

Nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi bangsa harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama oleh generasi muda sebagai penerus pembangunan.

Dia tak menampik media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi mampu menjadi sarana edukasi dan pengembangan diri.

Namun di sisi lain, jika tidak dibarengi literasi digital yang memadai, media sosial berpotensi memunculkan polarisasi, penyebaran ujaran kebencian, hingga memudarkan rasa nasionalisme.

Baca Juga: Jelang Hari Lahir Pancasila, PLN NP UP Brantas Serahkan Bantuan Fasilitas WASH untuk Warga Desa Kedungcangkring Tulungagung

Fenomena menurunnya interaksi sosial langsung akibat penggunaan gawai juga menjadi perhatian.

Meski demikian, dispora masih melihat banyak anak muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan melalui berbagai komunitas sosial, olahraga, maupun kegiatan ekonomi kreatif.

Tentu ada beberapa fenomena yang menjadi perhatian bersama. Tetapi, kami juga melihat banyak pemuda yang tetap aktif berkegiatan dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Ini yang harus terus didorong,” terangnya.

Untuk memperkuat nilai kebersamaan tersebut, dispora menjadikan olahraga sebagai salah satu instrumen utama pembinaan karakter.

Melalui aktivitas olahraga, para pemuda tidak hanya dituntut menjaga kebugaran fisik, tetapi juga belajar mengenai sportivitas, disiplin, kerja sama, serta menghargai perbedaan.

Olahraga menjadi sarana yang sangat efektif untuk mempererat persatuan. Di dalamnya ada nilai kebersamaan, kerja tim, saling menghormati, dan sportivitas yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila,” paparnya.

Baca Juga: Umur 20 Bisa Sukses! 5 Rahasia Kaya Muda yang Harus Diketahui Generasi Milenial

Selain olahraga, organisasi kepemudaan juga terus didorong menjadi ruang kolaborasi lintas latar belakang.

Melalui organisasi, pemuda dapat belajar berkomunikasi, bekerja sama, sekaligus memahami keberagaman yang ada di masyarakat.

Mamad juga menyoroti fenomena kebingungan yang kerap dialami generasi muda dalam menentukan arah pengembangan diri.

Banyaknya pilihan yang tersedia di era digital terkadang justru membuat pemuda kesulitan mengenali potensi yang dimiliki.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari minimnya ruang berekspresi, kurangnya pendampingan, hingga budaya membandingkan diri dengan orang lain yang kerap muncul melalui media sosial.

Karena itu, pemuda perlu mendapatkan ruang-ruang positif untuk mencoba, belajar, dan berkembang. Dari situ, mereka bisa menemukan potensi terbaik yang dimiliki sekaligus membangun karakter yang kuat,” pungkasnya. (bac/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#1 juni #pancasila #hari lahir pancasila #dispora