RADAR TULUNGAGUNG - Pembongkaran Jembatan Gondang 1 Tulungagung berimbas bagi pedagang di sekitarnya.
Pendapatan mereka berpotensi merosot karena hanya menggantungkan penghasilan dari hilir mudik kendaraan antardaerah.
Biasanya suara mesin kendaraan bersahut-sahutan di depan lapaknya. Truk, bus, mobil pribadi hingga sepeda motor silih berganti melintasi ruas jalan penghubung Tulungagung–Trenggalek.
Namun, sejak Selasa sore (2/6/2026), suasana itu mendadak hilang. Jalan yang selama puluhan tahun menjadi urat nadi mobilitas antarkabupaten kini lengang.
Di balik proyek besar yang ditujukan untuk keselamatan pengguna jalan itu, terselip kegelisahan para pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup dari ramainya lalu lintas.
Bagi sebagian orang, penutupan jembatan hanya berarti harus memutar arah lebih jauh. Namun, bagi para pedagang di tepi jalan, keputusan itu berarti hilangnya pelanggan yang selama ini datang tanpa perlu dicari.
Hal tersebut dirasakan Mu’in, pelaku usaha makanan dan minuman di kawasan yang sama. Menurutnya, efek penutupan jalan langsung terasa sejak hari pertama. Arus kendaraan yang biasanya menjadi sumber pelanggan spontan praktis menghilang.
“Ya otomatis langsung terganggu. Bahasannya ya begitu kalau akses utama ditutup total seperti ini,” katanya.
Namun di tengah ketidakpastian itu, para pedagang berusaha mencari celah untuk tetap bertahan.
Jika selama ini mereka bergantung pada pengendara yang melintas, kini harapan baru muncul dari aktivitas proyek itu sendiri.
Puluhan pekerja konstruksi yang akan berada di lokasi selama berbulan-bulan dianggap sebagai pasar baru yang bisa dimanfaatkan.
Walau jumlahnya tidak sebesar arus kendaraan harian, setidaknya keberadaan mereka memberi peluang agar warung-warung kecil tetap hidup.
Harapan itu mulai terlihat setelah adanya komunikasi informal antara pedagang dengan pihak pelaksana proyek. Beberapa lapak di sekitar lokasi disebut berpotensi dilibatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi para pekerja.
“Pak Yanto dari pelaksana sudah bilang, nanti coba dibantu panjenengan yang masak sama buat kopi untuk pemborongnya,” ujar Mu’in menirukan percakapan yang diterimanya.
Meski demikian, peluang tersebut belum tentu bisa menjangkau seluruh pedagang terdampak. Tidak semua usaha dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan proyek.
Sebagian masih harus berjuang menarik pelanggan di tengah jalan yang kini lebih sering diselimuti debu dan suara alat berat dibanding deru kendaraan.
Namun, bagi para pedagang kecil, bertahan adalah pilihan yang tak bisa ditawar. Mereka tetap membuka lapak setiap pagi, menata dagangan seperti biasa, dan berharap ada pelanggan yang singgah.
“Rezeki, Mas. Nanti ya ada saja yang datang. Sama gusti Allah pasti diberi jalan,” ucap Mu’in sambil tersenyum.
Di tengah lengangnya jalur Gondang, kalimat itu menjadi pegangan sederhana bagi banyak pedagang.
Sebab ketika lalu lintas berhenti mengalir, harapan menjadi modal yang paling berharga untuk tetap bertahan. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri