RADAR TULUNGAGUNG - Memasuki musim giling tebu tahun 2026, PG Modjopanggoong Tulubgagung kembali menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya berfokus pada target produksi, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial dan spiritual.
Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus ikhtiar memohon kelancaran operasional, perusahaan menggelar kegiatan santunan kepada 102 anak yatim di Masjid An Nur PG Modjopanggoong, Rabu (3/6).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 12.00 WIB tersebut dihadiri oleh Plh General Manager PG Modjopanggoong Qiqien Gunarko, jajaran manajer, takmir masjid, serta karyawan.
Suasana penuh kehangatan dan kekhidmatan terasa saat doa bersama dipanjatkan untuk menyambut dimulainya musim giling tebu tahun ini.
Baca Juga: PG Modjopanggoong Tulungagung Tebar Kepedulian di Idul Adha 1447 H, Sembelih 4 Sapi dan 1 Kambing
Dalam kesempatan itu, bantuan tali asih diserahkan secara langsung kepada 102 anak yatim.
Santunan tersebut menjadi bagian dari tradisi tahunan yang selalu dilaksanakan menjelang giling perdana sebagai wujud kepedulian sosial perusahaan sekaligus sarana memohon doa restu demi kelancaran proses produksi.
Plh GM PG Modjopanggoong Qiqien Gunarko mengatakan bahwa kegiatan santunan anak yatim telah menjadi agenda rutin yang selalu mengawali musim giling.
“Ini merupakan bentuk ikhtiar dan rasa syukur kami. Selain memohon doa restu kepada Allah SWT, kami juga mengajak seluruh jajaran perusahaan untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim. Semoga dengan keikhlasan dan doa mereka, PG Modjopanggoong diberikan kelancaran, kesuksesan, serta hasil giling yang melimpah dan penuh keberkahan,” ujarnya.
Menurut Qiqien, keberhasilan musim giling tidak hanya ditentukan oleh kesiapan mesin maupun sumber daya manusia, tetapi juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak yang terlibat dalam rantai usaha pergulaan.
Ia menegaskan bahwa proses giling merupakan pekerjaan besar yang memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari petani tebu, perbankan, mitra kerja, hingga seluruh karyawan perusahaan.
“Giling tebu tidak bisa dilakukan sendiri oleh PG Modjopanggoong. Dibutuhkan kekompakan dan kolaborasi seluruh stakeholder agar target produksi dapat tercapai sesuai yang telah ditetapkan. Insyaallah dengan kebersamaan dan dukungan semua pihak, kapasitas giling yang kami targetkan dapat terpenuhi,” jelasnya.
Selain penyerahan santunan, kegiatan juga diisi dengan doa bersama yang dipimpin oleh ustaz setempat.
Doa-doa yang dipanjatkan dan diamini oleh anak-anak yatim diharapkan menjadi penyemangat sekaligus harapan agar seluruh rangkaian musim giling 2026 berjalan aman, lancar, dan sukses.
Qiqien menambahkan, tradisi santunan anak yatim bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari budaya perusahaan yang terus dijaga dari tahun ke tahun.
Melalui kegiatan tersebut, PG Modjopanggoong ingin menanamkan semangat berbagi dan memperkuat hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar.
“Santunan ini sudah menjadi agenda tetap setiap awal giling. Harapan kami, apa yang menjadi target dan cita-cita PG Modjopanggoong pada musim giling tahun ini dapat diraih semaksimal mungkin, sekaligus membawa manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya.
Dengan semangat kebersamaan, kepedulian sosial, serta doa yang mengiringi langkah awal musim giling, PG Modjopanggoong optimistis mampu menghadapi tantangan tahun 2026 dan meraih hasil produksi yang maksimal, produktif, serta penuh berkah.***
Editor : Vidya Sajar Fitri