RADAR TULUNGAGUNG - Simpul jalur alternatif menjadi salah satu titik rawan kemacetan selama penutupan Jembatan Gondang 1 Tulungagung.
Di sisi inilah, sukarelawan pengatur lalu lintas atau supeltas berperan mengatur arus lalu lintas agar lebih lancar dengan peralatan seadanya.
Debu beterbangan setiap kali truk dan mobil melintas. Suara klakson bersahutan hampir tanpa jeda.
Di tengah kepadatan kendaraan yang terus mengalir dari dua arah, selembar bendera kecil di tangan Arif Riyono bergerak ke kanan dan kiri, memberi aba-aba kepada pengendara yang hendak melintas di sebuah persimpangan jalur alternatif Kecamatan Gondang, Tulungagung.
Sejak Jembatan Gondang 1 ditutup untuk proses pembongkaran dan pembangunan ulang, wajah lalu lintas di wilayah tersebut berubah drastis.
Baca Juga: Drainase Mojoarum Rusak Dampak Penutupan Jembatan Gondang 1, Pemkab Tulungagung Masih Lakukan Kajian
Jalan-jalan desa yang biasanya relatif lengang kini dipadati kendaraan dari berbagai daerah.
Kondisi paling terasa terjadi setiap akhir pekan, terutama Minggu sore saat arus balik menuju kota-kota besar mulai meningkat.
Di tengah perubahan itu, para supeltas menjadi sosok yang nyaris tak pernah absen di sejumlah persimpangan. Arif menjadi salah satunya.
Dengan mengenakan rompi berwarna mencolok dan berbekal bendera sederhana, dia bersama rekan-rekannya bergantian membantu mengatur kendaraan yang melintas.
Mereka bukan petugas resmi, melainkan kehadirannya kerap membantu mencegah kemacetan panjang di titik-titik pertemuan arus kendaraan.
"Kalau sore hari, terutama Minggu, kendaraan sangat ramai. Banyak yang dari arah Trenggalek menuju Tulungagung dan sebaliknya. Kalau tidak dibantu mengatur, sering terjadi antrean panjang," ujarnya.
Tidak ada jadwal resmi yang mengikat. Para supeltas biasanya membagi waktu secara sukarela.
Ada yang berjaga sejak pagi, ada pula yang mengambil giliran malam hari.
Bahkan, pada jam-jam tertentu hingga dini hari masih ada yang tetap siaga di lokasi.
Menurut Arif, kondisi lalu lintas saat ini jauh berbeda dibanding sebelum penutupan jembatan.
Volume kendaraan meningkat berkali-kali lipat karena seluruh arus harus dialihkan melalui jalan alternatif yang melintasi kawasan permukiman warga.
Menariknya, kendaraan roda empat justru dinilai lebih mudah diatur.
Pengemudi mobil umumnya lebih sabar mengikuti aba-aba ketika harus bergantian melintas di persimpangan sempit.
Sebaliknya, pengendara sepeda motor sering kali menjadi tantangan tersendiri.
"Kalau mobil biasanya lebih tertib. Yang agak sulit itu sepeda motor karena kadang ingin cepat lewat dan mencari celah sendiri," katanya sambil tersenyum.
Tantangan lain yang harus mereka hadapi adalah kondisi lingkungan sekitar.
Jalan yang padat membuat debu beterbangan hampir sepanjang hari, terutama saat cuaca panas dan kendaraan besar melintas tanpa henti.
Bagi sebagian orang, berdiri berjam-jam di pinggir jalan mungkin terasa melelahkan.
Namun, bagi Arif dan rekan-rekannya, membantu kelancaran lalu lintas sudah menjadi bagian dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
"Yang penting lalu lintas bisa lebih lancar dan tidak sampai macet panjang. Kami hanya membantu semampunya," tuturnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri