RADAR TULUNGAGUNG – Pemberlakuan rekayasa lalu lintas pascapenutupan total Jembatan Gondang 1 langsung mengubah peta pergerakan kendaraan di wilayah selatan Tulungagung.
Jalur-jalur alternatif yang disiapkan sebagai rute pengalihan kini menjadi tumpuan ribuan kendaraan, mulai sepeda motor, mobil pribadi, bus antarkota, hingga truk bermuatan besar.
Pantauan Koran ini menunjukkan koridor selatan yang membentang dari simpang empat Tamanan hingga simpang empat Durenan, Trenggalek, masih berada dalam kategori ramai lancar.
Namun, volume kendaraan meningkat signifikan dibanding hari-hari normal. Kondisi tersebut ditandai dengan mulai banyaknya kendaraan bertonase besar yang melintasi jalur pengalihan.
Chalvin, warga Kecamatan Pakel yang setiap hari melintasi koridor selatan, mengaku dampak penutupan jembatan sangat terasa terhadap kepadatan lalu lintas.
Menurutnya, kendaraan besar yang sebelumnya lebih banyak melintas di jalur utama kini beralih ke ruas jalan selatan.
“Sekarang kondisinya ramai pol. Banyak kendaraan besar yang beralih lewat sini, seperti bus, truk-truk muatan besar, dan kendaraan lainnya yang biasanya lewat jalur utama,” ujarnya.
Masuknya kendaraan besar, lanjut dia, membuat ruang gerak pengguna jalan semakin terbatas.
Baca Juga: Drainase Mojoarum Rusak Dampak Penutupan Jembatan Gondang 1, Pemkab Tulungagung Masih Lakukan Kajian
Pengendara roda dua bahkan kerap harus merapat ke sisi jalan ketika berpapasan dengan truk atau bus.
Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan gangguan besar seperti kecelakaan maupun kerusakan jalan yang sampai menghentikan arus kendaraan.
Persoalan utama justru muncul pada sejumlah titik persimpangan yang mulai kesulitan menampung lonjakan volume lalu lintas.
“Sekarang sering sekali terjadi kemacetan di beberapa titik persimpangan krusial, terutama seperti di simpang empat Bandung dan simpang empat Campurdarat,” keluhnya.
Menurut Chalvin, antrean panjang kerap terjadi ketika kendaraan besar hendak berbelok karena membutuhkan ruang dan waktu lebih lama dibanding kendaraan lain.
Akibatnya, antrean kendaraan di belakang cepat mengular.
Tidak hanya koridor selatan, kondisi serupa juga terjadi di jalur alternatif timur yang bertumpu pada ruas simpang tiga Jetakan-Gondang.
Berdasarkan pantauan di lapangan, arus kendaraan masih dapat bergerak, namun kapasitas jalan mulai tertekan akibat meningkatnya jumlah kendaraan yang melintas.
Renal, warga Kecamatan Gondang, menyebut volume kendaraan mengalami kenaikan sejak jalur utama ditutup total.
Dia menilai kondisi semakin berat ketika kendaraan beroda enam memaksakan diri memasuki ruas jalan yang relatif sempit.
“Jalanan di sini sekarang semakin ramai sejak jalur utama ditutup total. Masalahnya, beberapa kendaraan besar itu tetap memaksa lewat jalur yang sempit ini. Karena ukuran jalannya terhitung sempit, jadi lalu lintas sempat padat dan macet beberapa kali,” katanya.
Sementara itu, dinamika berbeda terlihat di jalur alternatif barat yang melintasi kawasan Mojoarum.
Secara umum arus kendaraan masih mengalir lancar, namun kemacetan berkala mulai muncul di sejumlah titik persimpangan, terutama di simpang tiga Pampang.
Berdasarkan hasil pemantauan, salah satu pemicu kepadatan berasal dari banyaknya kendaraan yang melakukan putar balik mendadak setelah mengetahui akses menuju jalur tertentu tidak dapat dilalui.
Kondisi tersebut diperparah oleh masih adanya pengendara yang kurang memperhatikan rambu-rambu penutupan jalan yang telah dipasang petugas.
“Di sini banyak sekali kendaraan yang akhirnya putar balik secara mendadak di tengah persimpangan. Padahal sudah ada plang informasi penutupan jalan di awal rute, tapi beberapa pengendara kurang memperhatikan dan tetap nekat melaju sampai sini,” ujar salah seorang penyeberang jalan di simpang tiga Pampang.
Menurutnya, banyak pengemudi mobil akhirnya memilih berbalik arah setelah mengetahui jalur penghubung menuju Ngrendeng memiliki lebar jalan yang terbatas dan tidak nyaman dilalui kendaraan roda empat. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri