RADAR TULUNGAGUNG – Belasan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tulungagung masih belum bisa beroperasi.
Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi suspend kepada 18 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) karena dinilai belum memenuhi sejumlah standar operasional yang ditetapkan.
Koordinator Wilayah (Korwil) BGN Tulungagung, Sebrina Mahardika menjelaskan, penghentian sementara tersebut merupakan kebijakan langsung dari BGN pusat.
Penyebabnya beragam, mulai dari sarana dan prasarana (sarpras) yang belum memenuhi ketentuan, kualitas layanan, hingga tata kelola dapur.
Baca Juga: Heru Tjahjono Ajak Warga Tulungagung Mangayubagya Dukung Program MBG
“Yang suspend masih ada 18. Penyebabnya bermacam-macam. Ada yang terkait sarpras, ada juga karena pergantian atau resign staf BGN di SPPG,” ujarnya, Selasa (9/6).
Menurut Sebrina, pada 2026 ini BGN memperketat pengawasan terhadap kualitas penyelenggaraan MBG. Tidak hanya kondisi bangunan dan fasilitas dapur, kualitas menu serta pelayanan kepada penerima manfaat juga menjadi perhatian utama.
Selain itu, BGN juga menyoroti praktik pengadaan bahan baku yang dinilai belum sesuai ketentuan. Saat ini, setiap SPPG diwajibkan memiliki sedikitnya 15 pemasok atau supplier untuk menghindari ketergantungan terhadap pihak tertentu.
“Kalau saya cek, rata-rata masih sekitar 3 sampai 5 supplier. Padahal minimal 15 supplier. Jadi tidak boleh dimonopoli satu atau beberapa pemasok saja,” terangnya.
SPPG yang mendapat status suspend diwajibkan melakukan perbaikan sesuai temuan hasil evaluasi. Lamanya masa suspend bergantung pada kecepatan masing-masing pengelola dalam memenuhi standar yang ditetapkan.
“Kalau belum memenuhi sarpras atau tata kelola yang dipersyaratkan, ya suspend tetap berlaku. Cepat atau lambatnya tergantung mitra melakukan perbaikan,” katanya.
Meski ada 18 dapur yang berhenti sementara, Sebrina memastikan layanan kepada penerima manfaat tetap berjalan. Penerima manfaat dari dapur yang di-suspend akan dialihkan ke SPPG lain yang masih aktif beroperasi.
“Penerima manfaat tidak berhenti. Akan di-cover oleh SPPG aktif di wilayah terdekat melalui koordinasi koordinator kecamatan,” jelasnya.
Saat ini, jumlah SPPG yang beroperasi di Tulungagung mencapai 129 unit. Namun, angka tersebut masih berpotensi berubah seiring hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berkala.
“Tidak menutup kemungkinan jumlah suspend bertambah kalau ditemukan kekurangan dalam sarpras, manajemen, tata kelola, maupun menu yang disajikan,” tegasnya. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri