RADAR TULUNGAGUNG - Agenda gotong royong pelestarian kawasan budaya di Situs Candi Dadi, Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, berubah menjadi suasana duka.
Seorang pegawai negeri sipil (PNS) meninggal dunia secara mendadak usai mengalami kondisi lemas dan kehilangan kesadaran saat mengikuti kegiatan sosial bersama komunitas.
Korban diketahui bernama Amanul Huda, 59, warga Jalan Letjend Suprapto, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung.
Dia meninggal saat dalam proses evakuasi turun dari kawasan puncak candi menuju permukiman warga.
Baca Juga: Ribuan Jamaah Calon Haji Tulungagung Diberangkatkan, Tiga Batal, Satu Meninggal Dunia
Kapolsek Boyolangu AKP Retno Pujiarsih menjelaskan, kejadian bermula saat korban bersama sekitar 15 anggota Komunitas SABDA (Sahabat Bumi dan Budaya) alumni SMUKED berangkat menuju Candi Dadi sekitar pukul 07.00 WIB.
Rombongan tersebut memiliki agenda membuat saluran air di sekitar kawasan situs.
"Kegiatan awal berjalan normal. Mereka melakukan pekerjaan fisik sampai sekitar pukul 10.30 WIB, kemudian istirahat untuk makan dan minum," terang Retno.
Namun, saat suasana istirahat berlangsung, kondisi korban tiba-tiba menurun.
Amanul mendadak lemas hingga tidak sadarkan diri. Rekan-rekannya yang berada di lokasi langsung berusaha memberikan pertolongan pertama.
"Teman-temannya sempat melakukan pertolongan dan meminta bantuan medis. Kebetulan ada dokter yang berada di bawah kawasan candi," imbuhnya.
Meski telah mendapat pertolongan, kondisi korban tidak kunjung membaik. Rombongan kemudian berinisiatif membawa korban turun dari puncak candi secara bersama-sama.
Namun, saat perjalanan evakuasi, denyut nadi korban sudah tidak teraba.
Mendapati kondisi tersebut, pihak komunitas langsung menghubungi Polsek Boyolangu dan petugas medis.
Tim kepolisian bersama Inafis Polres Tulungagung dan tenaga medis RSUD dr Iskak kemudian melakukan pemeriksaan serta evakuasi jenazah.
Dari hasil pemeriksaan luar, polisi memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan maupun unsur tindak pidana.
"Hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan luka atau tanda penganiayaan pada tubuh korban," tegas Retno.
Polisi menyebut, sebelum kejadian, korban masih terlihat sehat dan tidak mengeluhkan kondisi tubuhnya saat perjalanan menuju lokasi.
Namun, berdasarkan keterangan keluarga, korban diketahui memiliki riwayat hipertensi sejak beberapa waktu terakhir.
Atas musibah itu, keluarga korban telah menerima kejadian tersebut sebagai takdir.
Pihak keluarga juga menolak dilakukan autopsi dan telah membuat surat pernyataan resmi.
"Keluarga sudah menerima dan jenazah kemudian diserahkan untuk proses pemakaman," pungkas Retno. (bac/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri