RADAR TULUNGAGUNG – Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah yang bertepatan dengan 1 Sura pada penanggalan Jawa menjadi momentum penting bagi umat Islam dan masyarakat Jawa untuk melakukan introspeksi diri.
Tradisi yang diwariskan turun-temurun tersebut sejatinya bukan dirayakan dengan pesta maupun hiburan berlebihan, melainkan diisi dengan muhasabah, doa, dan berbagai laku spiritual.
Budayawan Tulungagung, Wawan Susetya menjelaskan, bulan Muharram atau Sura memiliki makna istimewa dalam tradisi Islam maupun budaya Jawa.
Karena itu, masyarakat dianjurkan memanfaatkannya sebagai sarana memperbaiki diri dan menata kehidupan di masa mendatang.
"Momentum pergantian tahun menjadi saat yang tepat untuk melakukan muhasabah terhadap perjalanan hidup selama setahun terakhir. Harapannya, kesalahan yang pernah dilakukan tidak terulang dan kehidupan ke depan menjadi lebih baik," ujarnya.
Menurut dia, tradisi yang berkembang di masyarakat Jawa selama bulan Sura lebih banyak diwujudkan melalui kegiatan spiritual seperti zikir, tirakatan, selamatan, bersedekah, hingga berbagai bentuk laku prihatin.
Tradisi tersebut merupakan ekspresi syukur sekaligus harapan agar memperoleh keselamatan dan keberkahan.
Wawan menuturkan, Muharram juga dikenal sebagai Syahr Al-Anbiya atau bulan para nabi.
Baca Juga: Malam 1 Sura di Pantai Popoh Tak Sekadar Tradisi, Jadi Strategi Bangkitkan Pariwisata Tulungagung
Sebab, terdapat sejumlah peristiwa penting yang berkaitan dengan kisah para nabi, mulai diterimanya taubat Nabi Adam AS, keselamatan Nabi Ibrahim AS dari kobaran api Raja Namrud, hingga keluarnya Nabi Yunus AS dari perut ikan.
Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh selama Muharram. Salah satunya dengan menjalankan puasa sunnah Asyura pada 10 Muharram yang didahului puasa Tasu'a pada 9 Muharram.
Selain itu, bulan Muharram juga menjadi tonggak sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.
Peristiwa tersebut kemudian dijadikan dasar penanggalan kalender Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab.
Baca Juga: Malam 1 Sura di Pantai Popoh Tak Sekadar Tradisi, Jadi Strategi Bangkitkan Pariwisata Tulungagung
Wawan menjelaskan, hijrah Rasulullah mengandung pelajaran penting bagi umat Islam. Tidak hanya berpindah tempat untuk menghindari tekanan dan penindasan, tetapi juga membangun peradaban baru yang lebih baik.
"Di Madinah, Rasulullah membangun fondasi masyarakat Islam dengan memperkuat persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar serta mendirikan Masjid Nabawi sebagai pusat aktivitas umat," terangnya.
Di sisi lain, masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri dalam memaknai datangnya bulan Sura.
Bulan tersebut dianggap sebagai bulan suci sekaligus bulan yang menentukan perjalanan hidup pada masa mendatang. Karena itu, berbagai ritual bernuansa spiritual masih banyak dijumpai di sejumlah daerah.
Tradisi Suroan seperti wilujengan, kenduri, tirakatan, hingga doa bersama masih menjadi bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Tujuannya bukan sekadar melestarikan budaya, melainkan juga memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan serta sesama.
Menurut Wawan, tradisi tersebut menunjukkan adanya perpaduan harmonis antara nilai-nilai Islam dan budaya Jawa.
Keduanya sama-sama mengajarkan pengendalian diri, kepedulian sosial, serta upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Berbagai tradisi penyambutan malam 1 Sura hingga kini masih berlangsung di sejumlah daerah.
Di Jogjakarta, misalnya, ribuan warga mengikuti ritual mubeng benteng dan tapa bisu. Sementara di Solo, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar kirab pusaka yang melibatkan kerbau bule keturunan Kiai Slamet sebagai cucuk lampah.
"Esensi dari seluruh tradisi itu sebenarnya sama, yakni mengajak manusia melakukan refleksi diri, memperbanyak doa, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik pada tahun yang akan datang," pungkasnya. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri